Asap Karhutla Kepung Tol Palindra, 25 Personel Siaga
Pengguna jalan tol di Sumatera Selatan kembali dihadapkan pada ancaman yang datang bukan dari kendaraan lain, melainkan dari udara. Sejak Juli hingga Oktober 2026, titik api di sekitar koridor Jalan Tol Palembang–Indralaya (Palindra) terus terpantau, dan asapnya berpotensi menurunkan jarak pandang di ruas sepanjang sekitar 22 kilometer tersebut. Menanggapi kondisi itu, PT Hakaaston (HKA) selaku pengelola jasa layanan operasi Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) menyiagakan personel dan armada khusus di sepanjang ruas.
Langkah tersebut disampaikan Direktur Operasi HKA, Aminudin Azis, pada Kamis, 22 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa keselamatan dan kelancaran arus kendaraan menjadi prioritas utama, sementara arah pergerakan asap serta dinamika jarak pandang dipantau secara real-time di lapangan.
Bagi warga Palembang yang rutin menuju kawasan Universitas Sriwijaya atau Indralaya di Kabupaten Ogan Ilir, kabut asap bukan sekadar gangguan penglihatan. Asap yang menyeberang ke badan jalan dapat menciptakan “dinding abu-abu” yang menyamarkan kendaraan di depan, memperpendek waktu reaksi, dan memaksa pengemudi mengambil keputusan dalam hitungan detik. Karena itu, informasi mengenai kesiapan petugas dan langkah pencegahan menjadi relevan bagi siapa pun yang berencana melintas.
Kesiapan Petugas dan Armada di Lapangan
HKA menerjunkan 25 personel siaga yang terdiri atas tim patroli, rescue, derek, hingga tim medis. Kesiapan itu diperkuat oleh personel Patroli Jalan Raya (PJR) serta pasukan Bawah Kendali Operasi (BKO). Selain manusia, sejumlah kendaraan operasional ditempatkan di lokasi rawan: mobil patroli, unit rescue, truk derek berfasilitas tangki air, ambulans, serta armada water tank berkapasitas 5.000 liter.
| Komponen | Jumlah/Spesifikasi | Fungsi utama |
|---|---|---|
| Personel siaga | 25 orang | Patroli, evakuasi, penanganan darurat, bantuan medis |
| Dukungan aparat | Personel PJR dan BKO | Pengaturan lalu lintas dan pengamanan area |
| Truk derek | Berfasilitas tangki air | Evakuasi kendaraan dan penyemprotan awal |
| Water tank | Kapasitas 5.000 liter | Pasokan air untuk pemadaman di sekitar koridor |
| Ambulans dan tim medis | Siaga di titik rawan | Pertolongan pertama korban |
| Posko bencana | Gerbang Tol Pemulutan | Koordinasi lintas instansi dan informasi pengguna jalan |
Penanggulangan api di area sekitar tol tidak berjalan sendiri. HKA berkoordinasi dengan BPBD Ogan Ilir, Manggala Agni, dan Polres Ogan Ilir yang mengoperasikan kendaraan Armoured Water Cannon (AWC). BNPB dan BPBD juga mendirikan posko siaga bencana di Gerbang Tol Pemulutan, lengkap dengan dukungan helikopter water bombing apabila pemadaman udara diperlukan.
Pola koordinasi semacam ini penting karena karhutla di sekitar jalan tol biasanya berasal dari lahan di luar ruang milik jalan. Artinya, pengelola tol tidak bisa memadamkan sumber api seorang diri, tetapi tetap bertanggung jawab menjaga keselamatan pengguna di ruas yang dikelolanya.
Mengapa Asap Lebih Berbahaya daripada Hujan
Hujan menurunkan jarak pandang, tetapi asap melakukan hal yang lebih rumit: ia menyerap dan memantulkan cahaya sehingga kontras objek menghilang. Pada kondisi asap tebal, lampu kendaraan di depan bisa terlihat justru ketika jaraknya sudah terlalu dekat untuk mengerem dengan aman. Ditambah lagi, asap sering bergerak tidak merata—ada bagian ruas yang masih terang, lalu beberapa puluh meter kemudian gelap pekat. Perubahan mendadak inilah yang paling sering memicu tabrakan beruntun.
Ada tiga faktor yang membuat asap di badan jalan berisiko tinggi:
- Jarak pandang tidak konsisten. Pengemudi cenderung mempertahankan kecepatan saat melihat ruas masih terang, lalu panik ketika memasuki gumpalan asap.
- Bau dan iritasi mata. Partikel asap membuat mata perih dan perhatian terpecah, terutama pada perjalanan malam.
- Kecenderungan berhenti di bahu jalan. Pengemudi yang panik sering berhenti di lajur lambat atau bahu jalan, padahal itu justru menciptakan titik rawan tabrakan dari belakang.
Karena sifatnya yang berulang setiap musim kemarau, pengetahuan tentang keselamatan berkendara di tengah kabut asap sebaiknya tidak dipelajari saat kejadian berlangsung. Panduan umum mengenai hal ini bisa dibaca pada artikel kabut asap karhutla menyelimuti jalan tol, yang membahas teknik berkendara dan perlengkapan yang perlu disiapkan.
Langkah Aman Melintas Saat Asap Pekat
Imbauan resmi HKA cukup ringkas: sesuaikan kecepatan kendaraan, nyalakan lampu utama bila melintasi area yang terdampak asap pekat, dan segera hubungi call center resmi jika menemukan kondisi membahayakan. Dalam praktiknya, ada beberapa hal tambahan yang layak diperhatikan.
- Turunkan kecepatan secara bertahap. Lepas pedal gas lebih awal, jangan mengerem mendadak di dalam gumpalan asap karena pengemudi di belakang tidak melihat lampu rem Anda dengan jelas.
- Nyalakan lampu utama dan lampu kabut. Gunakan lampu dekat, bukan lampu jauh, karena sorotan jauh memantul pada partikel asap dan justru memperburuk pandangan.
- Jaga jarak jauh lebih besar. Pada kondisi jarak pandang terbatas, jarak aman tiga detik tidak cukup. Beri ruang minimal dua kali lipat dari biasanya.
- Jangan berhenti di bahu jalan. Bila benar-benar tidak bisa melanjutkan perjalanan, keluar di gerbang tol terdekat atau rest area. Berhenti di bahu jalan saat asap tebal adalah pilihan paling berisiko.
- Pantau informasi resmi. Ikuti kanal resmi pengelola tol dan call center Hutama Karya di 150-700 atau WhatsApp 08112-77000 untuk mengetahui status ruas terkini.
Bagi pengemudi yang melintas malam hari, pertimbangkan untuk menunda perjalanan bila laporan asap sedang pekat. Palindra relatif singkat—waktu tempuh normal hanya sekitar 15–20 menit—sehingga menunggu satu hingga dua jam biasanya lebih rasional daripada memaksakan diri. Latar belakang ruas ini, termasuk konektivitas dan sejarah pembangunannya, diuraikan dalam artikel sejarah Tol Palindra.
Dampak pada Rencana Perjalanan dan Biaya
Gangguan asap umumnya tidak mengubah besaran tarif, tetapi bisa mengubah perhitungan biaya perjalanan secara keseluruhan. Perlambatan di ruas yang terdampak membuat konsumsi bahan bakar naik, dan penundaan keberangkatan dapat menggeser jadwal sehingga pengemudi memilih rute alternatif yang lebih jauh. Untuk perjalanan lanjutan dari Palindra menuju Kayu Agung atau kawasan lain di Sumatera Selatan, rincian tarif per golongan kendaraan dapat dilihat pada artikel tarif Tol Palembang–Indralaya–Kayu Agung.
Sebelum berangkat, ada baiknya Anda memeriksa estimasi biaya tol sesuai rute dan golongan kendaraan melalui halaman cek tarif tol. Angka tarif tidak berubah karena asap, namun mengetahui nilai pastinya membantu Anda menyiapkan saldo kartu e-toll secukupnya—terutama bila perjalanan harus dialihkan lewat ruas lain di luar rencana awal. Saldo yang cukup juga menghindari antrean pengisian ulang di gerbang tol saat kondisi visibilitas sedang buruk.
Perlu dicatat, pengalihan arus akibat asap biasanya bersifat situasional dan ditentukan di lapangan. Keputusan menutup atau membuka lajur berada di tangan petugas yang melihat langsung kondisi jarak pandang, bukan pada jadwal yang bisa diprediksi dari jauh. Karena itu, rencana perjalanan sebaiknya dibuat lentur: siapkan waktu cadangan, dan jangan menjadwalkan pertemuan penting tepat setelah perkiraan waktu tiba.
Kesimpulan
Asap karhutla di sekitar Tol Palindra adalah persoalan musiman yang dampaknya nyata bagi keselamatan pengguna jalan. Kesiapan 25 personel, armada water tank 5.000 liter, posko di Gerbang Tol Pemulutan, serta koordinasi dengan BPBD, Manggala Agni, dan kepolisian menunjukkan bahwa penanganannya dilakukan secara terpadu, bukan sekadar imbauan di atas kertas.
Bagi pengguna jalan, kuncinya ada pada kewaspadaan: kurangi kecepatan, nyalakan lampu utama, jaga jarak, dan jangan berhenti di bahu jalan saat asap pekat. Lengkapi pula persiapan perjalanan dengan memeriksa tarif tol dan memastikan saldo e-toll mencukupi, sehingga satu-satunya hal yang perlu Anda pikirkan di jalan adalah keselamatan, bukan kekurangan saldo di gerbang.



