Progres Tol Kediri–Tulungagung & Akses Bandara Dhoho 2026
Jalan Tol Kediri–Tulungagung, termasuk segmen akses penghubungnya menuju Bandara Internasional Dhoho di Kediri, masuk dalam daftar proyek yang ditargetkan Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU) melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) untuk difungsikan pada akhir 2026. Akses tol menuju bandara internasional baru milik swasta ini menjadi salah satu dari 10 ruas tol yang diproyeksikan beroperasi fungsional menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru), sebagaimana dipaparkan BPJT kepada publik pertengahan tahun ini.
Mengapa ruas ini penting? Karena di luar fungsinya sebagai penghubung antarkota di Jawa Timur, tol ini akan menjadi jalur darat utama menuju salah satu bandara internasional paling baru di Indonesia, yang juga tengah disiapkan menjadi embarkasi haji baru pada 2027. Bagi warga Kediri, Tulungagung, dan sekitarnya, kehadiran jalan tol ini menjanjikan pemangkasan waktu tempuh dan akses yang jauh lebih cepat ke bandara. Artikel ini merangkum progres terkini, spesifikasi ruas, hingga kendala pembebasan lahan yang masih menjadi hambatan. Sebagai catatan penting, hingga kini tol ini belum beroperasi dan belum memiliki tarif resmi — jadi jangan ragu untuk mengecek cek tarif tol melalui kalkulator kami setelah ruasnya benar-benar difungsikan.
Konteks Bandara Internasional Dhoho Kediri
Bandara Internasional Dhoho Kediri dibangun oleh PT Gudang Garam Tbk (GGRM), salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia, melalui anak usahanya PT Surya Dhoho Investama (SDHI). Proyek ini dikendalikan keluarga taipan Susilo Wonowidjojo, dan menjadi salah satu contoh keterlibatan swasta terbesar di Indonesia dalam pembangunan infrastruktur bandara. Pada data awal 2024, GGRM tercatat menyuntikkan dana sekitar Rp15 triliun ke SDHI untuk membiayai pembangunan bandara tersebut.
Bandara ini didesain untuk menjadi gerbang udara internasional baru di Jawa Timur bagian selatan, melengkapi bandara-bandara yang telah lebih dulu beroperasi di provinsi itu. Selain fungsi komersial, Bandara Dhoho diproyeksikan Kementerian Agama (Kemenag) untuk menjadi salah satu embarkasi haji baru mulai 2027. Artinya, jemaah calon haji dari wilayah Jawa Timur akan semakin dipermudah karena tidak semua harus berangkat melalui bandara yang telah ada sebelumnya. Keberadaan akses jalan tol yang langsung menuju bandara menjadi krusial — karena bandara internasional yang disibukkan oleh arus penumpang, termasuk jemaah haji maupun wisatawan mancanegara, membutuhkan konektivitas darat yang cepat dan andal ke jaringan jalan utama.
Spesifikasi Tol Kediri–Tulungagung
Jalan Tol Kediri–Tulungagung memiliki total panjang sekitar 44,17 kilometer, yang terdiri dari jalan utama (main road) sekitar 37,35 kilometer ditambah akses penghubung sepanjang sekitar 6,82 kilometer menuju Bandara Dhoho. Anggaran proyek ini diperkirakan mencapai sekitar Rp9,92 triliun, sebagian di antaranya dialokasikan untuk pengadaan lahan.
Ruas ini membentang di Jawa Timur dan terhubung dengan jaringan tol yang telah ada serta yang masih dalam tahap pengembangan. Tol Kediri–Tulungagung saling terhubung dengan Tol Kertosono–Kediri, sebuah ruas yang hingga pertengahan 2026 dilaporkan belum mulai pembangunan fisiknya. Dengan demikian, koridor Kediri-Tulungagung menjadi jembatan yang menghubungkan kawasan selatan Jawa Barat–Jawa Tengah dengan wilayah selatan Jawa Timur, sekaligus memberi akses langsung ke Bandara Dhoho.
Progres Konstruksi
Perkembangan konstruksi tol ini terus berjalan, dan perhatian utama tertuju pada segmen akses menuju Bandara Dhoho yang menjadi prioritas mengingat bandara sudah beroperasi dan membutuhkan konektivitas darat yang baik. Berdasarkan laporan pertengahan 2026, konstruksi Seksi 2 yang merupakan bagian dari akses Bandara Dhoho telah mencapai sekitar 63 persen, dan ditargetkan rampung pada kuartal II tahun 2027.
Selain target penyelesaian fisik, akses tol ke Bandara Dhoho juga masuk dalam daftar BPJT sebagai bagian dari 10 ruas yang ditargetkan beroperasi fungsional untuk mendukung arus lalu lintas Nataru akhir 2026. Artinya, dalam skenario yang digadang-gadang pemerintah, sebagian dari akses ini sudah dapat difungsikan menjelang libur akhir tahun meski pembangunan seksi lainnya masih berlanjut. Skenario operasi fungsional semacam ini umum pada proyek-proyek tol strategis: ruas dibuka sementara untuk membubarkan kepadatan di periode puncak, sebelum sepenuhnya ditarifkan setelah konstruksi tuntas.
Perlu dipahami bahwa beroperasi fungsional untuk sementara tidak sama dengan beroperasi penuh dengan tarif. Biasanya pada tahap fungsional, ruas dapat dilalui tanpa tarif atau dengan tarif khusus. Oleh karena itu, jangan memperhitungkan angka biaya tol apa pun untuk ruas ini saat ini, karena belum ada tarif resmi yang berlaku. Ikuti terus pembaruan di cek tarif tol setelah ruas ini beroperasi penuh.
Kendala Pembebasan Lahan
Di balik progres konstruksi yang cukup menggembirakan, proyek ini masih menghadapi hambatan utama berupa pembebasan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B). Sejumlah bidang lahan yang terdampak merupakan sawah produktif yang dilindungi oleh aturan mengenai lahan pangan berkelanjutan, sehingga proses pengadaannya lebih kompleks dibandingkan lahan biasa.
Beberapa angka penting yang patut dicermati:
- Sebanyak 72 bidang lahan milik Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri, seluas sekitar 17 hektare, ikut terdampak oleh pembangunan tol ini.
- Perbedaan aturannya mencolok: karena ini adalah aset milik pemerintah daerah, maka ganti rugi tidak boleh diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan harus berupa lahan pengganti. Ketentuan ini berbeda dari lahan milik warga yang ganti ruginya dapat berbentuk uang.
- Di antara bidang tersebut, 21 bidang sawah dilindungi oleh UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, sehingga proses pelepasan dan pergantiannya membutuhkan verifikasi yang lebih ketat.
- Untuk menyelesaikan hal ini, verifikasi terhadap 141 bidang lahan telah diajukan kepada Tim Pengadaan Tanah sejak April 2026.
- Namun, hingga akhir Juli 2026, proses pergantian lahan pengganti tersebut belum kunjung terealisasi, sebagaimana diakui Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kediri, Endang Kartika.
Ketidakpastian dalam pergantian aset lahan Pemda ini berpotensi menahan sebagian pekerjaan di segmen yang melintasi lahan milik pemerintah kota. Karena lahan tersebut tidak bisa langsung dibayar dengan uang, pemerintah kota dan tim pengadaan tanah harus menemukan lahan pengganti yang setara, sebuah proses yang membutuhkan waktu dan koordinasi antarinstansi.
Isu ini sempat memunculkan narasi bahwa proyek tol Kediri-Tulungagung ‘mangkrak’ atau mandek. Klaim tersebut kemudian dibantah. Progres konstruksi, khususnya pada seksi akses menuju Bandara Dhoho yang sudah mencapai sekitar 63 persen, menunjukkan bahwa pekerjaan fisik tetap berjalan. Yang tertunda adalah sebagian proses administratif dan pengadaan lahan tertentu, bukan seluruh proyek. Dengan kata lain, terminologi yang lebih tepat adalah adanya hambatan parsial pada pembebasan tanah tertentu, bukan penghentian seluruh kegiatan pembangunan.
Tabel Ringkasan Tol Kediri–Tulungagung & Akses Bandara Dhoho
| Komponen | Detail |
|---|---|
| Panjang total ruas | 44,17 kilometer |
| Panjang main road | 37,35 kilometer |
| Panjang akses menuju Bandara Dhoho | 6,82 kilometer |
| Perkiraan anggaran | Sekitar Rp9,92 triliun |
| Pengembang Bandara Dhoho | PT Gudang Garam Tbk (GGRM) melalui PT Surya Dhoho Investama (SDHI) |
| Progres konstruksi akses (Seksi 2, Juli 2026) | Sekitar 63 persen |
| Target penyelesaian seksi akses | Kuartal II 2027 |
| Target operasi fungsional Nataru 2026 | Akses bandara masuk daftar BPJT (10 ruas) |
| Lahan aset Pemkot Kediri terdampak | 72 bidang, sekitar 17 hektare |
| Bidang sawah dilindungi UU 41/2009 | 21 bidang |
| Verifikasi lahan diajukan | 141 bidang sejak April 2026 |
| Status pergantian lahan pengganti | Belum terealisasi hingga akhir Juli 2026 |
| Ruas terhubung | Tol Kertosono–Kediri (belum mulai fisik) |
| Status tarif | Belum beroperasi, belum ada tarif resmi |
Dampak Ekonomi dan Konektivitas
Kehadiran Tol Kediri–Tulungagung membawa dampak ganda: konektivitas antarkota dan konektivitas menuju bandara. Secara ekonomi, ruas ini diharapkan memangkas biaya dan waktu logistik antara Kediri, Tulungagung, dan wilayah sekitarnya yang selama ini mengandalkan jalan arteri. Kota Kediri dikenal sebagai pusat industri rokok dan aktivitas manufaktur, sementara Tulungagung dikenal dengan kerajinan marmer — dua potensi ekonomi yang beruntung jika dihubungkan dengan akses darat yang cepat.
Selain itu, akses langsung ke Bandara Internasional Dhoho akan mengubah pola perjalanan udara di wilayah ini. Kargo dan penumpang yang sebelumnya harus menempuh jarak jauh menuju bandara lain di Jawa Timur dapat dialihkan ke bandara yang lebih dekat. Dengan rencana Bandara Dhoho menjadi embarkasi haji pada 2027, konektivitas tol menjadi pendukung penting bagi kelancaran arus jemaah selama musim haji.
Kehadiran koridor ini juga semakin melengkapi jaringan Tol Trans Jawa dan tol-tol baru di Jawa Timur. Bersama ruas-ruas lain yang tengah dibangun maupun direncanakan, Tol Kediri–Tulungagung membantu membuka wilayah selatan Jawa Timur dari keterisolasian transportasi dan menarik investasi di sepanjang koridornya.
FAQ Seputar Tol Kediri–Tulungagung dan Akses Bandara Dhoho
- Kapan Tol Kediri–Tulungagung beroperasi? Sebagian, khususnya akses menuju Bandara Dhoho, ditargetkan beroperasi fungsional untuk mendukung Nataru akhir 2026, dengan seksi akses yang ditargetkan rampung pada kuartal II 2027. Namun, jadwal masih dapat berubah tergantung penyelesaian konstruksi dan pembebasan lahan.
- Berapa panjang tol ini? Total panjangnya sekitar 44,17 kilometer, terdiri dari main road sekitar 37,35 kilometer dan akses Bandara Dhoho sekitar 6,82 kilometer.
- Apakah ruas ini sudah punya tarif? Belum. Hingga artikel ini ditulis, tol masih dalam pembangunan dan belum berlaku tarif resmi apa pun. Selalu cek kalkulator tarif tol setelah ruas beroperasi penuh.
- Siapa yang membangun Bandara Dhoho? PT Gudang Garam Tbk (GGRM) melalui anak usahanya PT Surya Dhoho Investama (SDHI), yang dikendalikan keluarga taipan Susilo Wonowidjojo.
- Ruas apa saja yang dihubungkan? Tol ini menguhubungkan Kediri dan Tulungagung serta memberi akses langsung ke Bandara Dhoho, dan terhubung dengan rencana Tol Kertosono–Kediri.
- Benarkah proyek ini mangkrak? Tidak. Progres konstruksi seksi akses telah mencapai sekitar 63 persen. Yang masih tertunda adalah proses pembebasan dan pergantian lahan aset Pemda tertentu, bukan seluruh proyek.
Kesimpulan
Tol Kediri–Tulungagung, utamanya segmen akses ke Bandara Internasional Dhoho, merupakan proyek strategis yang terus berjalan dengan progres yang cukup menggembirakan. Konstruksi seksi akses telah mencapai sekitar 63 persen dengan target rampung pada kuartal II 2027, dan ruas ini masuk dalam daftar BPJT yang diproyeksikan beroperasi fungsional untuk mendukung Nataru akhir 2026. Namun, penyelesaian proyek masih dihadapkan pada kompleksitas pembebasan lahan pertanian pangan berkelanjutan, termasuk 72 bidang aset Pemkot Kediri yang harus diganti dengan lahan pengganti, bukan uang tunai.
Kombinasi antara kehadiran bandara internasional baru, potensi dijadikannya embarkasi haji pada 2027, serta pemangkasan waktu tempuh antarwilayah menjadikan ruas ini salah satu proyek tol yang paling dinantikan di Jawa Timur. Pantau terus pembaruan informasinya di cektol.id, dan setelah ruas ini benar-benar beroperasi, gunakan fitur kalkulator tarif tol untuk menghitung estimasi biaya perjalanan Anda.
Informasi Terkait
- Tol Trans Sumatera 2026: Ruas, Tarif, dan Progres Terkini
- 10 Ruas Tol Baru Siap Difungsikan Nataru 2026/2027
- Progres Pembangunan Tol Baru 2026 dan Target Beroperasi
- 9 Tol Baru Beroperasi 2026: Daftar Rute dan Tarif Terbaru
Sumber
- Petromindo / BPJT — daftar 10 ruas tol ditargetkan fungsional akhir 2026
- KonstruksiMedia — 24 Juni 2026
- Bisnis.com — 10 Agustus 2026
- ketik.com — 31 Juli 2026 (progres konstruksi akses Bandara Dhoho)
- DPRD Jawa Timur — keterangan Pj Sekda Kota Kediri terkait pembebasan lahan



