Sejarah Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (MKTT)
Ketika Bandara Internasional Kualanamu (KNO) resmi menggantikan Bandara Polonia pada 2013, Sumatera Utara menghadapi persoalan baru yang mendesak: bandara baru itu berdiri jauh di luar pusat Kota Medan, di Kabupaten Deli Serdang. Penumpang dan penjemput yang sebelumnya cukup menempuh belasan menit ke Polonia kini harus menyeberangi jalan arteri yang padat. Perjalanan ke bandara terasa berat, belum lagi arus truk logistik dari Pelabuhan Belawan yang terus mengalir ke arah timur.
Jawaban atas persoalan itu adalah Jalan Tol Medan–Kualanamu–Tebing Tinggi (MKTT). Ruas ini menghubungkan Kota Medan, Bandara Internasional Kualanamu, dan Kota Tebing Tinggi dalam satu koridor bebas hambatan, sekaligus menjadi bagian dari jaringan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Ketika sudah beroperasi penuh, perjalanan dari pusat Kota Medan ke terminal bandara yang tadinya bisa memakan lebih dari satu jam di jam sibuk terpangkas menjadi sekitar setengah jam, sementara Medan–Tebing Tinggi yang sebelumnya 3–4 jam via arteri menyusut menjadi sekitar satu jam.
Bagi Sumatera Utara, MKTT bukan sekadar jalan pintas menuju bandara. Ia adalah mata rantai yang menyambung Pelabuhan Belawan di utara dengan koridor timur Sumatera, dan pada gilirannya terhubung ke ruas-ruas yang menuju Danau Toba. Artikel ini menelusuri sejarahnya secara utuh—dari perencanaan, konstruksi per tahap, peresmian bertahap, hingga perkembangannya kini. Untuk angka tarif terkini, gunakan kalkulator tarif tol cektol.id; tulisan ini lebih fokus pada kisah di balik aspalnya.
Perencanaan: Pemicu dan Tonggak Awal
Gagasan jalan tol di koridor timur Sumatera Utara sebenarnya sudah lama mengendap. Ketika Belmera beroperasi pada 1986 sebagai jalan tol pertama di luar Pulau Jawa, ia menjadi ujung jalan tol tunggal di Sumatera. Perlu waktu hampir tiga dasawarsa sebelum Sumatera Utara memiliki ruas tol kedua. Dorongan besar datang dari program percepatan pembangunan infrastruktur nasional yang menempatkan JTTS sebagai proyek strategis, disusul oleh kebutuhan nyata akses cepat ke Bandara Kualanamu yang beroperasi sejak 2013.
Proses pelelangan pengusahaan jalan tol ini berjalan pada 2014. Konsorsium empat badan usaha milik negara—PT Jasa Marga, PT Pembangunan Perumahan, PT Waskita Karya, dan PT Hutama Karya—ditetapkan sebagai pemenang lelang pada 4 September 2014. Konsorsium itu membentuk badan usaha jalan tol bernama PT Jasa Marga Kualanamu Tol (JMKT), dengan komposisi saham awal Jasa Marga 55 persen dan tiga BUMN lainnya masing-masing 15 persen. Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) kemudian ditandatangani pada Januari 2015 untuk masa konsesi 40 tahun. Pemerintah menargetkan ruas ini selesai bertahap: seksi menuju Kualanamu berfungsi lebih dulu, disusul seksi menuju Tebing Tinggi.
Konstruksi: Dua Tahap Pengerjaan
Dalam pembangunannya, MKTT dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama membentang dari Medan melalui Perbarakan hingga Kualanamu sepanjang sekitar 17,80 km, dibangun oleh pemerintah. Tahap kedua membentang dari Perbarakan hingga Tebing Tinggi sepanjang sekitar 44 km, dikerjakan oleh PT Jasamarga Kualanamu Tol dan dipecah lagi menjadi dua sub-seksi, yakni Perbarakan–Lubuk Pakam dan Lubuk Pakam–Tebing Tinggi.
Peletakan batu pertama pembangunan dilakukan pada 23 September 2014 di Lubukpakam, ditandai oleh Menteri Pekerjaan Umum saat itu, Djoko Kirmanto. Progres konstruksi seksi pertama dilaporkan mulai berjalan pada akhir tahun itu, sementara pembebasan lahan terus dikebut sepanjang trase. Jalan tol ini dirancang dengan 2x2 lajur pada tahap awal dan disiapkan berkembang menjadi 2x3 lajur pada tahap akhir, dengan kecepatan rencana 100 km/jam. Angka investasi yang disebut pemerintah untuk tahap pertama berada di kisaran Rp4 triliun, sedangkan total nilai investasi ruas secara keseluruhan dalam berbagai laporan akhirnya mencapai angka yang jauh lebih besar seiring penyelesaian seluruh seksi. Semua angka biaya dan panjang di sini bersifat indikatif dan dapat berubah mengikuti dokumen resmi terbaru.
Peresmian Bertahap: 2017–2019
MKTT tidak dibuka sekaligus, melainkan sepotong demi sepotong agar manfaatnya bisa segera dirasakan. Ruas Parbarakan–Sei Rampah sepanjang sekitar 41,7 km diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Joko Widodo pada 13 Oktober 2017; sebagian ruas ini bahkan sudah dicoba pada arus mudik Lebaran tahun itu. Peresmian tersebut tercatat sebagai pembukaan jalan tol terpanjang yang diresmikan di Sumatera Utara pada masa itu.
Setelah itu, pembukaan ruas Tanjung Morawa menuju Kualanamu dilakukan pada 11 Juni 2018, diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara saat itu, Tengku Erry Nuradi. Tahap penyempurnaan terakhir terjadi ketika ruas Sei Rampah, Serdang Bedagai, hingga Kota Tebing Tinggi dibuka pada 25 Maret 2019. Dengan dibukanya ruas terakhir itu, seluruh koridor dari Medan sampai Tebing Tinggi akhirnya tersambung penuh dan beroperasi sebagai satu kesatuan.
Pengembangan Lanjutan dan Ruas Sambung
Peran MKTT tumbuh seiring berkembangnya jaringan di sekitarnya. Di ujung barat, ruas ini bertemu dengan Tol Belawan–Medan–Tanjung Morawa (Belmera) di Simpang Susun Tanjung Morawa, sehingga perjalanan dari pelabuhan hingga Tebing Tinggi bisa dilakukan tanpa keluar badan jalan tol. Dari arah utara, jaringan terhubung pula dengan Tol Medan–Binjai.
Yang tak kalah penting, MKTT kini menjadi gerbang menuju Tol Kuala Tanjung–Tebing Tinggi–Parapat (Kutepat) di ujung timurnya. Ruas Tebing Tinggi–Indrapura sepanjang sekitar 20,4 km diresmikan pada awal 2024, disusul seksi Indrapura–Lima Puluh. Dengan begitu, perjalanan menuju Danau Toba dan kawasan Pematangsiantar semakin cepat. Gerbang-gerbang tol pada ruas lanjutan ini bahkan dirancang dengan arsitektur lokal—Gerbang Tebingtinggi mengadopsi motif Pucuk Rebung Melayu, sedangkan Gerbang Indrapura mengambil motif Songket Batubara. Sejak April 2024, sistem transaksi MKTT juga diintegrasikan dengan Kutepat dan Tol Indrapura–Kisaran agar tarif perjalanan lintas ruas dihitung sesuai asal-tujuan. Untuk memahami jaringan yang lebih luas, simak pula artikel kami tentang progres dan tarif Jalan Tol Trans Sumatera.
Tabel Milestone Sejarah Tol MKTT
| Tahun / Periode | Peristiwa Penting | Seksi / Proyek |
|---|---|---|
| 2013 | Bandara Kualanamu beroperasi menggantikan Polonia | Pemicu kebutuhan akses tol |
| 4 September 2014 | Konsorsium BUMN ditetapkan sebagai pemenang lelang | Pengusahaan MKTT |
| 23 September 2014 | Peletakan batu pertama di Lubukpakam | Konstruksi tahap awal |
| Januari 2015 | PPJT ditandatangani, konsesi 40 tahun | PT Jasamarga Kualanamu Tol |
| 13 Oktober 2017 | Diresmikan Presiden Joko Widodo | Ruas Parbarakan–Sei Rampah, sekitar 41,7 km |
| 11 Juni 2018 | Diresmikan Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi | Ruas Tanjung Morawa–Kualanamu |
| 25 Maret 2019 | Ruas terakhir dibuka, koridor tersambung penuh | Sei Rampah–Kota Tebing Tinggi |
| Awal 2024 | Peresmian ruas lanjutan ke arah Danau Toba | Tol Tebing Tinggi–Indrapura |
| April 2024 | Integrasi sistem transaksi lintas ruas | MKTT, Kutepat, Indrapura–Kisaran |
Profil Ruas
Secara keseluruhan, panjang ruas MKTT tercatat sekitar 61,7–61,8 km. Perlu dicatat, sebagian sumber dan artikel populer menyebut angka yang lebih besar—naik hingga sekitar 77 km—karena yang dihitung adalah perjalanan penuh Medan–Tebing Tinggi termasuk segmen sambungan atau pengukuran trase lama. Karena definisi pengukuran bisa berbeda, angka panjang ini sebaiknya diperlakukan sebagai data yang dapat berubah dan dicek pada sumber resmi operator serta BPJT.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Nama resmi | Jalan Tol Medan–Kualanamu–Tebing Tinggi (MKTT) |
| Wilayah | Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, Kota Tebing Tinggi |
| Panjang | Sekitar 61,7–61,8 km (sebagian sumber menyebut hingga sekitar 77 km — dapat berubah) |
| Tahap I | Medan–Perbarakan–Kualanamu, sekitar 17,8 km |
| Tahap II | Perbarakan–Tebing Tinggi, sekitar 44 km |
| Lajur | 2x2 lajur tahap awal, 2x3 lajur tahap akhir |
| Kecepatan rencana | Sekitar 100 km/jam |
| Operator | PT Jasamarga Kualanamu Tol (JMKT) |
| Fungsi utama | Akses Bandara Kualanamu dan penghubung Medan–Tebing Tinggi |
| Jaringan | Bagian Jalan Tol Trans Sumatera, terhubung Belmera dan Kutepat |
Keistimewaan MKTT terletak pada posisinya sebagai satu-satunya ruas tol di Sumatera Utara yang secara langsung melayani bandara internasional. Gerbang Kualanamu menjadi titik paling ikonik karena mengantar penumpang hampir sampai ke pintu terminal. Sepanjang trase, pengendara melewati lanskap perkebunan kelapa sawit dan lahan hijau Serdang Bedagai yang menjadi ciri khas koridor timur Sumatera, dengan beberapa rest area yang disiapkan untuk arah utara maupun selatan.
Gerbang Tol dan Konektivitas
MKTT dilayani oleh sejumlah gerbang dan simpang susun yang menghubungkan permukiman, kawasan industri, hingga bandara. Nama dan jumlah gerbang dapat mengalami penyesuaian, sehingga urutan dan statusnya sebaiknya dipastikan melalui sumber resmi sebelum berangkat.
| Gerbang / Simpang Susun | Lokasi | Fungsi Utama |
|---|---|---|
| Tanjung Morawa | Deli Serdang | Simpul pertemuan dengan Belmera, arah Medan |
| Perbarakan | Deli Serdang | Penghubung segmen barat MKTT |
| Kualanamu | Deli Serdang | Akses utama Bandara Internasional Kualanamu |
| Kemiri | Deli Serdang | Akses kawasan Kemiri |
| Lubuk Pakam | Deli Serdang | Akses kawasan industri Deli Serdang |
| Perbaungan | Serdang Bedagai | Akses Kota Perbaungan dan sekitarnya |
| Teluk Mengkudu | Serdang Bedagai | Akses kawasan pesisir |
| Sei Rampah | Serdang Bedagai | Akses Sei Rampah dan kawasan selatan |
| Tebing Tinggi | Kota Tebing Tinggi | Ujung timur MKTT, junction menuju Kutepat |
Dari simpul-simpul di atas, pengendara bisa melanjutkan perjalanan ke berbagai arah. Ke barat menuju Medan dan Pelabuhan Belawan lewat Belmera, ke utara menuju Binjai melalui jaringan Medan Raya, dan ke tenggara menuju Indrapura serta kawasan Danau Toba lewat Kutepat. Bagi Anda yang berencana menempuh rute bandara, rincian gerbang dan tarifnya dibahas lebih dalam di artikel tarif tol Medan-Kualanamu.
Evolusi Layanan dan Tarif
Sejak masa perencanaan, tarif MKTT sudah diproyeksikan mengikuti pola jalan tol antarkota, yakni dihitung per kilometer perjalanan dan dibedakan menurut golongan kendaraan. Pada masa awal pengoperasian, dokumen pengusahaan menyebut patokan tarif sekitar Rp744 per kilometer untuk golongan I, dan angka itu pun dinyatakan dapat berubah bila biaya investasi berubah. Sejak saat itu, tarif telah beberapa kali ditinjau seiring penyelesaian seksi dan penyesuaian kebijakan.
Prinsipnya, tarif jalan tol di Indonesia ditinjau secara berkala oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dengan mempertimbangkan inflasi, kualitas pelayanan, dan masa konsesi. Karena itu, nominal tarif dapat berubah dari waktu ke waktu dan artikel ini sengaja tidak mematok angka presisi yang berisiko cepat usang. Dari sisi layanan, seluruh transaksi di gerbang MKTT sudah menggunakan kartu uang elektronik tanpa pembayaran tunai, dan sejak 2024 sistemnya terintegrasi dengan ruas-ruas JTTS di sekitarnya sehingga perjalanan lintas ruas lebih mulus. Untuk angka terkini per gerbang dan per golongan, cek langsung di kalkulator tarif tol kami.
Fakta Menarik Seputar MKTT
- Ruas tol kedua di Sumatera Utara. Setelah Belmera (1986), MKTT menjadi jalan tol berikutnya yang beroperasi di provinsi ini—jeda hampir tiga dasawarsa.
- Melayani bandara internasional. Gerbang Kualanamu menjadikan MKTT sebagai satu-satunya ruas tol di Sumut yang mengantar langsung ke bandara.
- Dibuka bertahap. Peresmiannya berlangsung dalam tiga gelombang: 2017, 2018, dan 2019, bukan sekaligus.
- Digarap konsorsium empat BUMN. Jasa Marga, PP, Waskita Karya, dan Hutama Karya bergabung dalam satu badan usaha, PT Jasamarga Kualanamu Tol.
- Jembatan menuju Danau Toba. Lewat sambungan Kutepat, MKTT memperpendek perjalanan Medan menuju kawasan Toba dan Pematangsiantar.
- Gerbang berarsitektur lokal. Ruas lanjutan di ujung timurnya memakai motif Pucuk Rebung Melayu dan Songket Batubara.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kapan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi dibangun dan diresmikan?
Peletakan batu pertama dilakukan pada 23 September 2014. Pengoperasiannya berlangsung bertahap: ruas Parbarakan–Sei Rampah diresmikan 13 Oktober 2017, ruas Tanjung Morawa–Kualanamu pada 11 Juni 2018, dan ruas terakhir Sei Rampah–Tebing Tinggi dibuka 25 Maret 2019.
Berapa panjang Tol MKTT?
Panjangnya tercatat sekitar 61,7–61,8 km. Sebagian sumber menyebut angka lebih besar—hingga sekitar 77 km—karena menghitung perjalanan penuh Medan–Tebing Tinggi termasuk segmen sambungan. Angka ini dapat berubah, jadi pastikan pada sumber resmi operator.
Tol MKTT terdiri dari berapa seksi?
Pembangunannya dibagi dua tahap: tahap pertama Medan–Perbarakan–Kualanamu sekitar 17,8 km, dan tahap kedua Perbarakan–Tebing Tinggi sekitar 44 km. Tahap kedua dipecah lagi menjadi sub-seksi Perbarakan–Lubuk Pakam dan Lubuk Pakam–Tebing Tinggi.
Siapa operator Tol MKTT?
Ruas ini dikelola oleh PT Jasamarga Kualanamu Tol (JMKT), anak usaha PT Jasa Marga yang dibentuk oleh konsorsium empat BUMN pada 2014. Jasa Marga memegang porsi saham terbesar dalam konsorsium tersebut.
Apakah Tol MKTT terhubung langsung ke Bandara Kualanamu?
Ya. Gerbang Kualanamu berada tepat di kawasan bandara, sehingga penumpang bisa keluar hampir di depan terminal. Inilah alasan MKTT menjadi jalur utama menuju Bandara Internasional Kualanamu.
Bagaimana koneksi MKTT ke Jalan Tol Trans Sumatera?
MKTT adalah bagian dari JTTS. Di ujung baratnya tersambung dengan Belmera di Simpang Susun Tanjung Morawa, di utara terhubung jaringan Medan–Binjai, dan di ujung timur menjadi gerbang menuju Tol Kutepat ke arah Indrapura dan Danau Toba.
Kapan tarif Tol MKTT mulai diberlakukan dan apakah bisa berubah?
Tarif mulai diberlakukan seiring pengoperasian tiap seksi dan telah beberapa kali ditinjau. Sesuai ketentuan, BPJT meninjau tarif secara berkala, sehingga nominalnya dapat berubah dari waktu ke waktu. Selalu cek angka terkini sebelum berangkat.
Apakah pembayaran di gerbang MKTT bisa tunai?
Tidak. Seluruh gerbang di MKTT melayani pembayaran non-tunai dengan kartu uang elektronik dari berbagai bank. Pastikan saldo cukup sebelum masuk gerbang karena tidak tersedia pembayaran tunai.
Kesimpulan
Sejarah Jalan Tol Medan–Kualanamu–Tebing Tinggi adalah kisah tentang bagaimana sebuah ruas menjawab kebutuhan zaman. Perpindahan bandara ke Kualanamu pada 2013 menuntut akses cepat, dan MKTT hadir sebagai jalan keluar—dibangun sejak 2014, dibuka bertahap pada 2017 hingga 2019, serta dikelola oleh PT Jasamarga Kualanamu Tol. Dari sekadar jalan menuju bandara, ruas sepanjang sekitar 61–62 km ini tumbuh menjadi simpul yang menyambungkan Medan, Pelabuhan Belawan, Tebing Tinggi, dan koridor menuju Danau Toba.
Perannya dalam Jalan Tol Trans Sumatera akan terus menguat seiring bertambahnya ruas sambung di sekitarnya. Jika Anda hendak melintasinya, biasakan merencanakan biaya dengan benar karena tarif dapat berubah sewaktu-waktu. Gunakan kalkulator tarif tol cektol.id untuk menghitung estimasi perjalanan Anda sesuai gerbang masuk, gerbang keluar, dan golongan kendaraan.
Artikel terkait



