Sejarah Tol Surabaya–Gempol: Jalan Tol Pertama Jawa Timur
Jalan Tol Surabaya–Gempol adalah ruas yang membentang sekitar 45 kilometer dari jantung Kota Surabaya hingga Kecamatan Gempol di Kabupaten Pasuruan. Bagi warga Jawa Timur, ruas ini bukan sekadar jalan bebas hambatan; ia adalah urat nadi yang menggerakkan kawasan industri Sidoarjo dan Pasuruan, mempercepat arus barang dari Pelabuhan Tanjung Perak, serta menjadi pintu menuju Malang, Pasuruan, dan ujung timur Pulau Jawa. Tidak berlebihan jika ruas ini disebut sebagai tulang punggung mobilitas Jawa Timur.
Namun, di balik fungsinya yang kini terasa biasa, Tol Surabaya–Gempol menyimpan sejarah panjang. Ruas ini adalah jalan tol pertama di Jawa Timur dan salah satu yang tertua di Indonesia, karena mulai beroperasi pada 26 Juli 1986 — hanya delapan tahun setelah Jagorawi, tol pertama Tanah Air, diresmikan. Artikel ini menelusuri perjalanannya secara kronologis: dari gagasan di era 1970-an, pembangunan yang penuh tantangan, ujian bencana lumpur, hingga perannya sebagai simpul penting koridor Trans Jawa. Jika Anda ingin menghitung biaya perjalanan di ruas ini hari ini, masukkan titik masuk dan keluar Anda ke kalkulator tarif tol cektol.id untuk hasil yang akurat dan selalu diperbarui.
Akar Sejarah: Ide dan Persiapan di Era 1970-an
Kisah tol Surabaya–Gempol tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan Jalan Tol Jagorawi yang diresmikan Presiden Soeharto pada 9 Maret 1978 sebagai tol pertama di Indonesia. Seminggu sebelum peresmian itu, tepatnya 1 Maret 1978, pemerintah membentuk PT Jasa Marga sebagai perusahaan pengelola jalan tol pertama. Hingga tahun 1987, Jasa Marga menjadi satu-satunya penyelenggara jalan tol di Tanah Air — sebuah monopoli yang menjelaskan mengapa hampir semua ruas awal Indonesia berada di bawah bendera yang sama.
Setelah Jagorawi terbukti mendatangkan manfaat, pemerintah mulai melirik koridor-koridor ekonomi di luar Jakarta. Jawa Timur menjadi salah satu prioritas karena wilayah Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan) tumbuh cepat sebagai pusat industri dan perdagangan. Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya membutuhkan jalur darat yang cepat menuju kawasan industri Sidoarjo dan Pasuruan, sekaligus menghubungkan Surabaya dengan Malang di selatan.
Menurut catatan sejarah yang dihimpun dari berbagai sumber, proyek pembangunan Jalan Tol Surabaya–Gempol dimulai pada November 1980. Proyek ini digarap sepaket dengan peningkatan jalan lama Surabaya–Porong di Sidoarjo hingga Malang, sehingga rute utama Jawa Timur bisa melayani lalu lintas yang terus meningkat. Konstruksinya dibagi menjadi dua seksi besar: seksi Surabaya–Waru dan seksi Waru–Gempol.
Pembangunan tidak berjalan mulus. Salah satu hambatan terberat adalah pembebasan lahan, yang dibebankan langsung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan biaya sekitar Rp160,5 miliar, di luar biaya konstruksi. Untuk menutup kebutuhan dana, pemerintah menempuh pinjaman luar negeri, antara lain dari Bank Pembangunan Asia (ADB) sebesar 48 juta dolar AS dan Saudi Fund for Development (SFD) sebesar 50 juta dolar AS. Perubahan desain juga memperlambat pekerjaan, termasuk penyesuaian pembangunan jembatan di atas Bozem (waduk buatan) Morokrembangan, Surabaya.
Pada periode yang sama, jaringan tol nasional mulai tumbuh dari pusatnya. Tanggal 9 Juli 1983, ruas Cawang–Tomang dari Jalan Tol Dalam Kota Jakarta dibuka sebagai jalan tol perkotaan pertama di Indonesia. Setahun kemudian, ruas Jakarta–Tangerang mulai beroperasi dan menjadi fondasi koridor barat. Pola inilah — dimulai dari Jakarta, lalu menyebar ke kota-kota besar lain — yang akhirnya membawa gagasan tol sampai ke Surabaya.
Pembangunan dan Pembukaan: 1980–1987
Babak penentu terjadi pada pertengahan dekade 1980-an. Pada awal tahun 1986, ruas Waru–Gempol selesai dibangun dan mulai difungsikan. Ruas sepanjang lebih dari 20 kilometer ini melintasi Sidoarjo, Porong, dan berakhir di Gempol, Pasuruan. Tidak lama setelahnya, ruas Dupak (Surabaya)–Gempol yang membentang sekitar 39 kilometer diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 26 Juli 1986.
Tanggal itulah yang lazim dicatat sebagai momen beroperasinya Tol Surabaya–Gempol. Dengan peresmian ini, Jawa Timur resmi memiliki jalan tol pertamanya, sekaligus menempatkan ruas tersebut sebagai jalan tol tertua di wilayah Indonesia bagian timur. Pada tahun yang sama, di Sumatera Utara, Jalan Tol Belawan–Medan–Tanjung Morawa (Belmera) juga dibuka. Dua ruas inilah yang menjadi cikal bakal jaringan tol di luar Jabotabek — titik balik dari tol yang semula hanya identik dengan Jakarta.
Satu bagian penting masih menyusul. Bagian tol yang menghubungkan Dupak dengan Pelabuhan Tanjung Perak melintasi waduk Morokrembangan melalui Jembatan Soerjo, dan baru diresmikan pada April 1987. Dengan selesainya jembatan ini, Jalan Tol Surabaya–Gempol genap terbangun sepanjang 43 kilometer pada masa awal operasinya — angka yang bertahan puluhan tahun hingga bencana lumpur mengubah petanya.
Kehadiran tol ini mengubah wajah koridor timur Surabaya secara drastis. Perjalanan dari pusat kota menuju Sidoarjo dan Gempol yang dulu harus melewati jalan arteri yang padat mendadak punya alternatif yang jauh lebih cepat. Kawasan industri di sepanjang trase mulai berkembang pesat, dan Gempol perlahan tumbuh menjadi simpul strategis yang menghubungkan Surabaya dengan Malang serta Pasuruan.
1990-an hingga 2000-an: Pengembangan dan Ujian Lumpur Lapindo
Memasuki dekade 1990-an, industri jalan tol Indonesia mengalami pergeseran kelembagaan. Pemerintah mulai membuka pintu bagi swasta untuk ikut membangun dan mengelola ruas, sehingga Jasa Marga berangsur beralih dari otoritas tunggal menjadi operator. Meski demikian, semangat ekspansi sempat terhenti oleh krisis moneter 1997–1998 yang menghentikan banyak proyek. Pada periode ini, ruas-ruas besar lain juga hadir, seperti Jalan Tol Jakarta–Cikampek sepanjang 73 kilometer yang diresmikan Soeharto pada 19 November 1988 — kelak menjadi salah satu jalan tol tersibuk di Indonesia.
Di Jawa Timur, Tol Surabaya–Gempol berperan sebagai penghubung utama antara ibu kota provinsi dan kawasan industri selatan. Namun, pada 2000-an datang pukulan tak terduga. Sejak Agustus 2006, ruas tol ini terganggu oleh bencana lumpur panas Sidoarjo. Lumpur menggenangi jalan tol pada kilometer 36 dari arah Surabaya, tepatnya di Desa Siring, Kecamatan Porong. Pemerintah sempat membangun tanggul setinggi 6 meter untuk menahan luapan, tetapi bencana itu akhirnya benar-benar menenggelamkan jalan tol di kawasan Porong.
Akibatnya, ruas Porong–Gempol sepanjang sekitar 6 kilometer tak bisa dilewati, dan Jalan Tol Surabaya–Gempol terputus dari jaringan utamanya selama bertahun-tahun. Jalan arteri lama yang melintasi Porong pun ikut terdampak karena terus mengalami penurunan permukaan tanah. Bagi warga dan pelaku logistik Jawa Timur, masa ini menandai salah satu gangguan paling berat terhadap kelancaran arus barang di koridor timur.
Pada tahun 2004, tata kelola jalan tol nasional dirombak lewat pembentukan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) di bawah Kementerian Pekerjaan Umum. Regulator dan operator resmi dipisah: pemerintah berwenang menetapkan tarif dan standar pelayanan, sementara operator fokus menjalankan konsesinya. Kebijakan ini menjadi landasan bagi pembangunan dan pemeliharaan ruas-ruas berikutnya, termasuk upaya memulihkan ruas yang terkena bencana.
Bangkit Kembali: Relokasi Porong dan Era Trans Jawa
Pemulihan ruas yang tenggelam membutuhkan solusi besar. Sejak tahun 2012, pemerintah mengoperasikan jalan raya arteri baru Porong untuk menampung lalu lintas yang selama ini kehilangan akses tol. Tak cukup di situ, relokasi tol ruas Porong–Gempol sepanjang sekitar 10 kilometer mulai dikerjakan secara bertahap.
Tahap pertama adalah ruas Kejapanan–Gempol sepanjang 3,55 kilometer yang dibuka sejak 18 Mei 2015. Selanjutnya, ruas Porong–Kejapanan sepanjang 6,45 kilometer diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 20 Desember 2018. Dengan rampungnya kedua tahap itu, Jalan Tol Surabaya–Gempol kembali beroperasi secara utuh sejak tahun 2018 — setelah terputus selama kurang lebih 12 tahun — dan panjangnya bertambah dari 43 kilometer menjadi sekitar 45 kilometer karena trase yang direlokasi.
Kebangkitan ini berbarengan dengan babak paling agresif dalam sejarah jalan tol Indonesia: pembangunan Tol Trans Jawa. Pada 2019, setelah ruas Pemalang–Batang menutup celah terakhir, koridor tol Jakarta–Surabaya tersambung penuh tanpa putus. Secara keseluruhan, koridor Trans Jawa dari Merak hingga Banyuwangi membentang sekitar 1.167 kilometer dan menjadikan Tol Surabaya–Gempol salah satu mata rantai pentingnya.
Peran Gempol sebagai simpul pun makin vital. Sejumlah ruas baru tumbuh di sekitarnya: Surabaya–Mojokerto yang beroperasi penuh sejak 2017 menghubungkan Surabaya ke arah barat, Gempol–Pasuruan yang beroperasi penuh sejak 2018 meneruskan perjalanan ke timur, Gempol–Pandaan yang beroperasi penuh sejak 2019 menjadi jembatan menuju Malang, dan Pandaan–Malang yang beroperasi penuh sejak 2020 melengkapi akses ke Kota Malang. Dari sebuah ruas tunggal di era 1980-an, koridor Jawa Timur kini menjelma jaringan yang saling terhubung.
Sementara itu, cara membayar tol juga berubah besar. Setelah era uji coba sejak sekitar 2009, 31 Oktober 2017 menjadi titik balik ketika seluruh gerbang tol di Indonesia mewajibkan pembayaran non-tunai dengan kartu uang elektronik. Babak berikutnya, Multi Lane Free Flow (MLFF) yang memungkinkan kendaraan melintas tanpa berhenti, kini diterapkan secara bertahap di jaringan tol utama.
Peta Jalan Waktu: Milestone per Dekade
| Dekade | Peristiwa Penting | Ruas / Proyek |
|---|---|---|
| 1970-an | Tol pertama Indonesia diresmikan, operator tunggal nasional dibentuk | Jagorawi (1978), PT Jasa Marga (1978) |
| 1980-an | Konstruksi dimulai, ruas Jawa Timur pertama beroperasi, tol pertama di luar Jabotabek | Surabaya–Gempol mulai dibangun (1980), beroperasi (1986), Belmera (1986), Jakarta–Cikampek (1988) |
| 1990-an | Swasta mulai masuk, krisis moneter menghentikan banyak proyek | Pengembangan koridor, JORR seksi awal (1990) |
| 2000-an | Regulator dan operator dipisah, bencana lumpur memutus ruas Porong | BPJT (2004), lumpur Lapindo menenggelamkan Porong–Gempol (sejak 2006) |
| 2010-an | Relokasi Porong rampung, Tol Trans Jawa tersambung, wajib non-tunai | Kejapanan–Gempol (2015), Porong–Kejapanan (2018), non-tunai (2017), Trans Jawa Jakarta–Surabaya (2019) |
| 2020-an | Pemeliharaan modern, ruas lanjutan di sekitar Gempol, uji coba pembayaran tanpa berhenti | Pandaan–Malang penuh (2020), MLFF diterapkan bertahap |
Ruas Ikonik dan Perkembangan Koridor Jawa Timur
Tol Surabaya–Gempol adalah pintu masuk bagi serangkaian ruas yang kini membentuk koridor tol Jawa Timur. Berikut gambaran ruas-ruas utama di sekitarnya beserta keistimewaannya.
| Ruas | Panjang | Keistimewaan |
|---|---|---|
| Surabaya–Gempol | ±45 km (43 km saat awal) | Jalan tol pertama Jawa Timur, beroperasi 26 Juli 1986, salah satu tol tersibuk di Indonesia bagian timur |
| Gempol–Pandaan | 13,61 km | Penghubung Gempol Junction menuju arah Malang, beroperasi penuh sejak 2019 |
| Gempol–Pasuruan | 34,15 km | Gerbang menuju Pasuruan, Probolinggo, dan Banyuwangi, beroperasi penuh sejak 2018 |
| Pandaan–Malang | 38,48 km | Akses utama Surabaya–Malang, jalan tol pertama berpredikat Green Toll Road level Gold, beroperasi penuh sejak 2020 |
| Surabaya–Mojokerto | 36,27 km | Penghubung ke arah barat menuju koridor Trans Jawa, beroperasi penuh sejak 2017 |
| Koridor Trans Jawa Timur | perkiraan (bagian dari ±1.167 km Trans Jawa) | Rangkaian ruas dari Surabaya ke ujung timur Jawa, terhubung lewat Simpang Susun Gempol |
Yang membuat Gempol istimewa adalah posisinya sebagai simpang susun paling penting di Jawa Timur. Dari satu titik ini, perjalanan bisa bercabang ke barat menuju Surabaya dan Trans Jawa, ke selatan menuju Malang, atau ke timur menuju Pasuruan dan Banyuwangi. Inilah alasan mengapa ruas-ruas besar di sekelilingnya dibangun dengan Gempol sebagai porosnya.
Evolusi Pembayaran: dari Uang Tunai ke Tanpa Berhenti
Perjalanan sistem pembayaran tol di Indonesia mencerminkan perubahan zaman yang sama dengan yang dialami Tol Surabaya–Gempol. Ketika ruas ini dibuka pada 1986, pengendara membayar tunai di gerbang: petugas menerima uang, menyerahkan karcis, dan kendaraan berhenti total. Sistem ini bertahan lebih dari dua dekade dan menjadi sumber antrean klasik, terutama saat musim liburan dan mudik.
Transisi menuju pembayaran elektronik mulai diuji sejak sekitar 2009, lalu diputuskan menjadi wajib secara nasional pada 31 Oktober 2017. Kini, babak ketiga tengah berjalan: sistem tanpa henti yang mengenali kendaraan secara otomatis. Berikut ringkasannya.
| Sistem | Cara Kerja | Masa Berlaku |
|---|---|---|
| Tunai | Petugas menerima uang di gerbang dan menyerahkan karcis, kendaraan harus berhenti total | 1986 hingga 2000-an, digantikan bertahap |
| Kartu uang elektronik (e-toll) | Kartu di-tap di gardu, saldo terpotong otomatis, kendaraan masih berhenti sesaat | Uji coba sejak sekitar 2009, wajib sejak 31 Oktober 2017 |
| MLFF (Multi Lane Free Flow) | Kamera dan teknologi pelacakan mengenali kendaraan, tarif dihitung otomatis tanpa berhenti | Uji coba dan penerapan bertahap |
Bagi pengguna Tol Surabaya–Gempol, perubahan ini terasa langsung di gerbang-gerbang seperti Dupak, Waru, Sidoarjo, Kejapanan, dan Gempol. Antrean yang dulu panjang berangsur berkurang, meski pada jam sibuk dan musim liburan kepadatan masih tetap terjadi.
Fakta Menarik Seputar Tol Surabaya–Gempol
- Jalan tol pertama di Jawa Timur. Sejak beroperasi pada 26 Juli 1986, ruas ini menjadi yang tertua di wilayah Indonesia bagian timur, mendahului banyak ruas besar lain di luar Jawa.
- Saksi mati-hidupnya sebuah koridor. Ruas ini pernah terputus sekitar 12 tahun akibat lumpur Lapindo, lalu pulih utuh pada 2018 lewat relokasi trase yang menambah panjangnya dari 43 km menjadi sekitar 45 km.
- Bagian dari koridor Trans Jawa. Ruas Waru–Gempol merupakan bagian jaringan Trans Jawa yang menghubungkan Pelabuhan Merak di Banten hingga Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, membentang sekitar 1.167 kilometer. Perbandingan panjang berbagai ruas besar bisa Anda lihat di artikel daftar tol terpanjang di Indonesia.
- Tarifnya diatur berkala oleh pemerintah. Sejak BPJT dibentuk pada 2004, kewenangan menetapkan tarif berada di tangan pemerintah pusat. Tarif tol dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti inflasi dan biaya pemeliharaan; cek versi terkini di kalkulator tarif tol agar tidak kaget di gerbang.
- Simpang susun strategis. Gempol Junction menghubungkan ruas ini dengan jalur menuju Malang, Pasuruan, dan Banyuwangi, menjadikannya salah satu titik percabangan tersibuk di Jawa Timur.
- Operator berspesialisasi kawasan. Ruas ini dikelola oleh entitas pengelola khusus Surabaya–Gempol di bawah Jasa Marga, sementara ruas lanjutan seperti Gempol–Pandaan dikelola perusahaan patungan tersendiri.
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Tol Surabaya–Gempol
Kapan Tol Surabaya–Gempol dibuka?
Ruas ini diresmikan dan mulai beroperasi pada 26 Juli 1986 oleh Presiden Soeharto, menjadikannya jalan tol pertama di Jawa Timur. Bagian penghubung ke Pelabuhan Tanjung Perak melalui Jembatan Soerjo baru lengkap pada April 1987, sehingga total panjangnya genap 43 kilometer saat itu.
Berapa panjang Tol Surabaya–Gempol sekarang?
Saat awal beroperasi, panjangnya sekitar 43 kilometer. Setelah trase ruas Porong direlokasi pascabencana lumpur, panjangnya bertambah menjadi sekitar 45 kilometer sejak kembali beroperasi utuh pada 2018.
Kenapa tarif tol di ruas ini bisa berubah?
Tarif tol ditetapkan pemerintah dengan mempertimbangkan jarak, biaya investasi dan pemeliharaan, inflasi, serta golongan kendaraan. Sejak 2004, kewenangan ini berada di bawah BPJT dan Menteri Pekerjaan Umum. Karena itu, tarif dapat berubah sewaktu-waktu — selalu cek angka terkini di kalkulator tarif tol.
Siapa yang mengelola Tol Surabaya–Gempol?
Pengelolaannya berada di bawah naungan PT Jasa Marga, operator jalan tol tertua di Indonesia yang berdiri pada 1978. Sejumlah ruas lanjutan di sekitarnya, seperti Gempol–Pandaan, dikelola perusahaan patungan tersendiri.
Apa hubungan Tol Surabaya–Gempol dengan Tol Trans Jawa?
Ruas Waru–Gempol merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Jawa, jaringan yang menghubungkan Merak di Banten hingga Banyuwangi di Jawa Timur sepanjang sekitar 1.167 kilometer. Koridor Jakarta–Surabaya tersambung penuh sejak 2019, menjadikan ruas ini salah satu mata rantai pentingnya.
Mengapa ruas Porong pernah tidak bisa dilewati?
Akibat bencana lumpur panas Sidoarjo yang mulai menggenangi jalan tol pada Agustus 2006 di sekitar kilometer 36, ruas Porong–Gempol sepanjang sekitar 6 kilometer tenggelam. Ruas pengganti diresmikan bertahap dan tuntas pada Desember 2018, sehingga tol kembali utuh.
Bagaimana cara cek tarif terbaru ruas ini?
Cara paling praktis adalah memakai kalkulator tarif tol cektol.id, yang memungkinkan Anda memasukkan titik masuk dan keluar untuk mendapatkan estimasi biaya sesuai golongan kendaraan.
Kesimpulan
Tol Surabaya–Gempol adalah kisah panjang tentang sebuah ruas yang membuka era baru bagi Jawa Timur. Dibangun sejak awal 1980-an dan diresmikan pada 26 Juli 1986, ia menjadi jalan tol pertama di provinsi ini dan salah satu yang tertua di Indonesia. Ia bertahan melewati krisis, terputus oleh bencana lumpur, lalu bangkit kembali pada 2018 dengan trase yang lebih panjang. Kini, sebagai bagian dari koridor Trans Jawa, ruas ini menyambungkan Surabaya dengan Malang, Pasuruan, dan ujung timur Pulau Jawa.
Sejarah menunjukkan bahwa jalan tol bukan hanya soal aspal, melainkan tentang konektivitas yang menggerakkan ekonomi dan kehidupan orang banyak. Sebelum Anda melintasi ruas bersejarah ini, hitung dulu estimasi biaya perjalanan Anda dengan kalkulator tarif tol di cektol.id — gratis, akurat, dan selalu diperbarui. Selamat berkendara!
Artikel terkait: Tarif Tol Surabaya–Gempol Lengkap dan 5 Ruas Jalan Tol Terpanjang di Indonesia.



