Rem Blong di Gerbang Tol: Pelajaran dari Insiden Ciawi 2
Gerbang Tol (GT) Ciawi 2 di Jalan Tol Jagorawi, Kota Bogor, Jawa Barat, kembali menjadi lokasi kecelakaan yang melibatkan kendaraan berat. Pada Kamis, 4 September 2025 dini hari, sebuah truk kontainer bernomor polisi B-9647-UEL menabrak gardu tol di gerbang yang melayani arus menuju Jakarta itu setelah pengeremannya diduga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Insiden tersebut menyebabkan seorang petugas Jasa Marga mengalami luka ringan, tiga gardu rusak, dan arus kendaraan menuju Jakarta tertahan hingga berjam-jam. Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini.
Artikel ini merangkum kembali kejadian tersebut berdasarkan keterangan kepolisian, operator jalan tol, dan Kementerian Perhubungan, lalu memperdalam satu pertanyaan yang berulang setiap kali kecelakaan serupa terjadi: mengapa truk kontainer bermuatan berat bisa kehilangan kemampuan mengerem sama sekali, tepat pada saat kendaraan itu memasuki area gerbang tol.
Perlu dicatat sejak awal bahwa sejumlah detail teknis masih berstatus dugaan. Kepolisian dan operator menyebut “diduga” mengalami gagal pengereman, bukan menyimpulkan penyebab final. Sampai keterangan resmi lanjutan diterbitkan, penyebab pasti insiden belum dapat dipastikan, dan artikel ini tidak menyimpulkan lebih jauh daripada yang disampaikan pihak berwenang.
Kronologi Singkat Insiden
Berdasarkan keterangan Kepala Induk PJR Tol Jagorawi Kompol Akhmad Jazuli, Kepala Unit Kecelakaan Lalu Lintas Polresta Bogor Kota AKP Santi Marintan, serta pernyataan resmi Jasamarga Metropolitan Tollroad, rangkaian peristiwa berlangsung sebagai berikut.
- Dini hari, sekitar pukul 02.30–03.00 WIB. Sebuah truk kontainer melaju pada lajur yang mengarah ke Jakarta dan memasuki kawasan GT Ciawi 2. Sejumlah laporan menyebut waktu kejadian sekitar pukul 02.30 WIB, sementara laporan lain menyebut sekitar pukul 03.00 WIB. Jasa Marga menginformasikan insiden melalui akun resminya pada pukul 04.30 WIB. Perbedaan jam ini menunjukkan bahwa waktu pasti masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut, sehingga sebaiknya dibaca sebagai rentang, bukan angka tunggal.
- Pengereman diduga tidak bekerja optimal. Menurut keterangan PJR, truk kontainer diduga mengalami gangguan pengereman saat mendekati deretan gardu. Truk kemudian menabrak pembatas beton lajur, lalu terus melaju ke area gardu.
- Gardu nomor 9 tertabrak. Gardu tersebut diperuntukkan bagi kendaraan kecil. Truk kontainer menghantam gardu itu, lalu terguling.
- Menabrak truk yang sedang bertransaksi. Dalam posisi terguling, truk kontainer menghantam sebuah truk Isuzu Colt Diesel bernomor polisi F-8643-VE yang sedang melakukan transaksi e-toll di gardu 11. Muatan truk kedua itu tumpah ke lajur gardu 11.
- Posisi akhir kendaraan. PJR mencatat truk Isuzu berada pada posisi normal dengan muatan berserakan ke arah utara di lajur gardu 11, sedangkan truk kontainer terbalik dengan roda kanan di atas dan bagian kepala mengarah ke utara di lajur gardu 9.
- Korban. Seorang petugas Jasa Marga mengalami luka ringan dan dibawa ke RS Ciawi untuk perawatan. Tidak ada laporan korban jiwa.
- Kerusakan. Tiga gardu di GT Ciawi 2 rusak, sehingga hanya enam gardu yang masih dapat beroperasi. Operator mengoptimalkan tiga unit mobile reader serta bantuan tapping oleh petugas untuk mengurai antrean.
- Evakuasi dan dampak lalu lintas. Evakuasi truk kontainer berlangsung hingga siang. Pada pukul 12.10 WIB, petugas masih mengevakuasi badan truk dengan bantuan kendaraan derek Jasa Marga, dan antrean kendaraan menuju Jakarta sempat mengular sekitar satu kilometer.
- Pengemudi tidak berada di lokasi. Kasat Lantas Polresta Bogor Kota Kompol Yudiono menyatakan pengemudi truk kontainer tidak ada di tempat kejadian saat petugas tiba, dan polisi melakukan pencarian.
Mengapa Truk Kontainer Bisa Kehilangan Kemampuan Mengerem?
Kecelakaan di gerbang tol memiliki pola yang khas. Kendaraan berat datang dari ruas jalan dengan kecepatan relatif tinggi, lalu dihadapkan pada titik yang menuntut perlambatan mendadak: antrean gardu, kendaraan yang berhenti untuk bertransaksi, dan ruang manuver yang sempit. Ketika sistem pengereman sudah kehilangan sebagian kemampuannya sebelum titik itu, tidak ada lagi ruang untuk memulihkan kendali. Berikut empat mekanisme yang paling sering menjelaskan kegagalan pengereman pada truk kontainer.
1. Panas berlebih dan peluruhan kemampuan rem (brake fade)
Rem bekerja dengan mengubah energi gerak menjadi panas melalui gesekan antara kampas dan drum (atau cakram). Pada kendaraan penumpang, panas itu terbuang cepat karena bebannya ringan. Pada truk kontainer bermuatan puluhan ton, energi yang harus diubah menjadi panas jauh lebih besar, dan sebagian besar energi itu berakhir di permukaan rem.
Ketika rem digunakan terus-menerus — misalnya menahan laju di turunan panjang tanpa bantuan gigi rendah — suhu drum dan kampas naik drastis. Pada titik tertentu, material kampas kehilangan sebagian kemampuan geseknya. Fenomena ini disebut brake fade. Gejalanya khas: pedal terasa lebih dalam, suara pengereman berubah, dan kendaraan tetap melaju meski pedal sudah diinjak kuat. Jika suhu terus naik, kampas dapat mengeras atau menggelas, dan drum bisa berubah bentuk. Setelah itu, satu-satunya yang tersisa adalah kegagalan total.
Penting dipahami bahwa brake fade bukan kerusakan yang selalu terlihat saat pemeriksaan di garasi. Rem bisa tampak normal saat kendaraan berangkat, lalu memudar hanya dalam beberapa menit mengerem terus-menerus di turunan. Inilah sebabnya insiden semacam ini sering terjadi pada kendaraan yang secara administratif dinyatakan laik jalan.
2. Sistem rem angin yang kehilangan tekanan
Truk besar di Indonesia umumnya memakai sistem rem angin (air brake), di mana tekanan udara terkompresi menjadi tenaga untuk mendorong kampas menekan drum. Sistem ini sangat andal, tetapi punya satu kelemahan mendasar: tanpa tekanan udara yang cukup, rem tidak akan bekerja. Bukan bekerja lemah — tetapi tidak bekerja.
Tekanan udara bisa hilang karena beberapa hal: selang atau sambungan bocor, kompresor melemah, katup (valve) macet, atau tangki angin terisi kondensasi air yang kemudian membeku dan menyumbat saluran. Pada kendaraan yang dipakai harian tanpa pemeriksaan rutin, kebocoran kecil bisa berkembang menjadi kehilangan tekanan yang signifikan. Sistem rem angin modern memiliki proteksi berlapis, misalnya rangkaian ganda dan alarm tekanan rendah, tetapi proteksi itu hanya berguna jika dirawat dan jika pengemudi memahami arti peringatannya.
Selain tekanan, ada komponen mekanis yang menentukan: slack adjuster yang menyetel jarak bebas antara kampas dan drum. Jika penyetelan terlalu longgar, langkah pedal atau tuas menjadi panjang dan gaya pengereman berkurang. Jika terlalu rapat, rem dapat menyeret dan memanaskan drum meski pedal tidak diinjak. Kedua kondisi tersebut memperbesar risiko fade dan kegagalan.
3. Beban, kecepatan, dan geometri jalan menuju gerbang
Jarak pengereman tidak bertambah secara lurus seiring bertambahnya berat, tetapi mengikuti energi kinetik yang harus diserap. Energi itu sebanding dengan massa dan kuadrat kecepatan. Artinya, truk yang kelebihan muatan dan melaju lebih cepat dari seharusnya membutuhkan energi pengereman yang jauh lebih besar, sementara kemampuan rem untuk membuang panas tetap sama.
Kawasan Ciawi berada di kaki jalur Puncak, dan arus kendaraan berat dari arah Puncak menuju Jakarta melewati turunan sebelum mencapai gerbang. Pada kondisi itu, rem sudah bekerja berat sebelum kendaraan tiba di gardu. Ketika pengemudi baru menyadari rem tidak lagi responsif di depan antrean gardu, jarak yang tersedia hanya puluhan meter — tidak cukup untuk menghentikan kendaraan seberat itu.
Kepadatan di area gardu memperburuk keadaan. Kendaraan berhenti dan berjalan bergantian untuk bertransaksi, sehingga pengemudi di belakang harus memperkirakan perlambatan secara tepat. Kesalahan kecil dalam membaca jarak berubah menjadi benturan beruntun dalam hitungan detik.
4. Perawatan, penyetelan, dan disiplin pengemudi
Kegagalan pengereman jarang disebabkan satu faktor tunggal. Yang lebih sering terjadi adalah akumulasi: kampas yang sudah menipis tetapi belum diganti, penyetelan yang tidak diperbarui, kebocoran kecil yang diabaikan, ditambah pengemudi yang mengandalkan rem konvensional alih-alih memanfaatkan gigi rendah dan rem bantu (exhaust brake atau retarder).
Faktor manusia juga berperan. Pengemudi yang kelelahan memiliki waktu reaksi lebih lambat dan cenderung mengambil keputusan tergesa-gesa. Pengemudi yang tidak mengenal medan mungkin tidak menyadari bahwa turunan menuju gerbang menuntut persiapan sejak jauh sebelumnya. Dalam kondisi panik, banyak pengemudi hanya menginjak rem lebih dalam, yang justru menambah panas dan mempercepat fade.
Faktor Penyebab, Mekanisme, dan Pencegahannya
Tabel berikut merangkum hubungan antara faktor penyebab, mekanisme kegagalan yang ditimbulkannya, dan tindakan pencegahan yang paling relevan. Sifatnya edukatif, bukan kesimpulan atas penyebab insiden di GT Ciawi 2, yang masih menunggu hasil penyelidikan.
| Faktor penyebab | Mekanisme kegagalan | Pencegahan |
|---|---|---|
| Panas berlebih pada rem | Kampas dan drum memudar (brake fade), gaya gesek turun drastis | Gunakan gigi rendah dan rem bantu di turunan, hindari mengandalkan rem terus-menerus |
| Tekanan udara rem kurang | Rem angin tidak mampu mendorong kampas, kendaraan meluncur bebas | Periksa kompresor, selang, dan katup; kuras kondensasi tangki angin secara berkala |
| Penyetelan jarak bebas salah | Langkah pengereman terlalu panjang atau rem menyeret dan memanas | Setel slack adjuster sesuai spesifikasi, lakukan inspeksi harian |
| Kampas rem aus | Gesekan tidak cukup, jarak pengereman memanjang | Ganti kampas sesuai interval, ukur ketebalan secara berkala |
| Muatan melebihi kapasitas | Energi kinetik membesar, kebutuhan pengereman melampaui kemampuan rem | Taat batas daya angkut, jalankan penimbangan dan pengawasan ODOL |
| Kecepatan terlalu tinggi di turunan | Waktu reaksi dan jarak pengereman tidak memadai | Patuhi rambu batas kecepatan, kurangi laju sejak awal turunan |
| Pengemudi lelah atau tidak siap medan | Reaksi lambat, keputusan salah saat rem mulai memudar | Atur waktu istirahat, kenali rute, siapkan rencana darurat |
| Perawatan tidak rutin | Kerusakan kecil terakumulasi menjadi kegagalan total | Terapkan program perawatan berkala dan pencatatan kondisi kendaraan |
Keselamatan di Area Gerbang Tol
Area gerbang tol adalah titik pertemuan antara kendaraan yang melaju dan kendaraan yang berhenti. Di sinilah perbedaan kecepatan paling tajam terjadi, dan di sinilah pengemudi kendaraan kecil paling rentan jika ada kendaraan berat yang gagal mengerem di belakangnya. Beberapa prinsip berikut layak dijadikan kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan.
Turunkan kecepatan lebih awal. Jangan menunggu sampai berada di depan gardu. Perlambat kendaraan sejak 300–500 meter sebelum gerbang, dan lebih awal lagi jika berada di turunan. Kecepatan rendah memberi ruang bagi kendaraan di belakang untuk bereaksi.
Jaga jarak aman, termasuk dari kendaraan di belakang. Jarak aman bukan hanya soal tidak menabrak kendaraan di depan, tetapi juga memberi ruang bagi kendaraan di belakang untuk berhenti. Pada antrean gardu, berhentilah dengan jarak yang cukup dari kendaraan di depan sehingga Anda masih punya ruang manuver jika melihat kendaraan besar di spion mendekat terlalu cepat.
Siapkan alat transaksi sebelum gardu. Kartu e-toll yang belum terbaca, saldo kurang, atau perangkat yang baru dicari saat tiba di gardu memaksa kendaraan berhenti lebih lama dan menciptakan antrean mendadak. Siapkan kartu, pastikan saldo, dan pilih lajur sesuai golongan kendaraan. Kendaraan kecil yang masuk ke lajur khusus truk akan memperlambat antrean, sedangkan truk yang memaksakan diri ke lajur kendaraan kecil berisiko tertahan di ruang yang terlalu sempit.
Jangan berhenti di bahu jalan atau area larangan. Bahu jalan tol bukan tempat parkir, bukan tempat menunggu, dan bukan tempat beristirahat. Kendaraan yang berhenti di bahu menjadi hambatan yang tidak terduga, terutama di tikungan dan menjelang gerbang.
Kenali jalur pelarian. Di ruas menurun tertentu, operator menyediakan jalur penyelamat darurat berupa tanjakan penahan berlapis material lepas. Jika rem benar-benar gagal, jalur itu adalah pilihan terakhir yang menyelamatkan nyawa. Penjelasan lengkap mengenai fungsi dan cara kerjanya tersedia di artikel jalur penyelamat Tol Cipularang.
Ambil keputusan cepat, bukan ragu. Ketika menyadari rem tidak merespons, menginjak pedal lebih dalam bukan solusi. Prioritaskan mengurangi kecepatan dengan gigi rendah, arahkan kendaraan ke area yang menyerap energi, dan hindari menerobos antrean kendaraan kecil. Langkah-langkah darurat lain saat terjadi masalah di jalan tol bisa disimak pada panduan darurat tol: mogok, ban kempes, kecelakaan.
Aturan dan Tanggung Jawab
Keselamatan kendaraan berat bukan semata tanggung jawab pengemudi. Ada kerangka hukum dan kelembagaan yang mengaturnya, dan kelemahan pada salah satu mata rantai akan terlihat di jalan.
Kewajiban laik jalan. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mewajibkan setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Persyaratan itu mencakup sistem rem, kemudi, ban, lampu, dan komponen lain yang menentukan kendali kendaraan. Uji berkala atau KIR adalah instrumen administratif untuk memastikan kewajiban tersebut dipenuhi secara berkala, bukan sekali untuk selamanya.
Keterbatasan uji berkala. Dalam insiden GT Ciawi 2, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat mencatat bahwa kedua truk yang terlibat memiliki masa berlaku uji berkala yang masih aktif. Truk kontainer B-9647-UEL tercatat melakukan uji berkala pada 15 Maret 2025 dan berlaku hingga 15 September 2025, sedangkan truk F-8643-VE berlaku hingga 15 Februari 2026. Fakta ini penting, tetapi tidak bertentangan dengan dugaan rem blong. Uji berkala menilai kondisi kendaraan pada saat pengujian; ia tidak menjamin kondisi rem pada hari kejadian, apalagi setelah berjam-jam perjalanan dengan muatan penuh.
Ramp check dan pemeriksaan di terminal. Selain uji berkala, kendaraan angkutan barang dapat diperiksa dalam bentuk ramp check, yaitu pemeriksaan kesiapan kendaraan sebelum berangkat. Pemeriksaan ini menyasar hal-hal yang cepat berubah: kondisi rem, ban, lampu, alat pemadam, dan kelengkapan keselamatan. Di sisi lain, pengawasan muatan lebih dari kapasitas menjadi kewenangan bersama antara regulator, kepolisian, dan pengelola terminal.
Peran pemerintah daerah dan pusat. Dinas Perhubungan di tingkat kabupaten/kota menjalankan uji berkala dan pengawasan angkutan, sementara Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menetapkan norma, standar, dan pengawasan pada tataran kebijakan. Kepolisian menangani penegakan hukum lalu lintas dan penyelidikan kecelakaan. Operator jalan tol bertanggung jawab atas kesiapan fasilitas, respons darurat, dan pemulihan layanan.
Tanggung jawab operator angkutan. Perusahaan angkutan barang memikul tanggung jawab paling langsung terhadap kelaikan armadanya. Tanggung jawab itu mencakup perawatan terjadwal, pencatatan kondisi kendaraan, pembatasan jam kerja pengemudi, dan penolakan mengoperasikan kendaraan yang tidak layak. Ketika kecelakaan terjadi, pertanyaan pertama yang biasanya diajukan penyidik adalah seberapa jauh perusahaan menjalankan kewajiban tersebut.
Respons dan Langkah Pencegahan
Jasamarga Metropolitan Tollroad menyatakan fokus pada percepatan evakuasi kendaraan dan perbaikan gardu agar layanan transaksi kembali normal. Senior Manager Representative Office 1 JMT, Alvin Andituahta Singarimbun, menyampaikan bahwa pihaknya mengoptimalkan tiga unit mobile reader dan bantuan tapping oleh petugas untuk mengurai antrean. Ia juga menegaskan bahwa perhatian serius perlu diberikan terhadap kelayakan kendaraan, karena kendaraan yang tidak prima sangat membahayakan pengguna jalan.
Dari sisi regulator, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Aan Suhanan menyatakan pihaknya mengirim petugas ke lapangan untuk memantau kondisi kendaraan dan lokasi kejadian, serta berkoordinasi dengan kepolisian dan Jasa Marga untuk mengumpulkan data. Ia juga mengimbau seluruh perusahaan angkutan barang dan pemilik barang untuk memastikan kondisi pengemudi dan kendaraan memenuhi persyaratan teknis laik jalan, serta tidak memuat melebihi kapasitas yang ditetapkan.
Kepolisian menangani pencarian pengemudi truk kontainer yang tidak berada di lokasi saat petugas tiba. Sampai keterangan ini disusun, belum ada pernyataan resmi mengenai hasil penyelidikan, penetapan tersangka, atau penyebab final kecelakaan. Karena itu, pembaca sebaiknya tidak menyimpulkan penyebab di luar pernyataan resmi yang ada.
Yang bisa dilakukan pengguna jalan tidak menunggu hasil penyelidikan. Bagi pengemudi kendaraan kecil, kebiasaan sederhana — memperlambat kendaraan sebelum gardu, menyiapkan kartu e-toll, dan memberi ruang bagi kendaraan besar di belakang — mengurangi risiko menjadi korban. Bagi pengemudi kendaraan berat, disiplin memeriksa rem, memanfaatkan gigi rendah di turunan, dan berhenti untuk memeriksa kondisi kendaraan di rest area adalah bentuk tanggung jawab yang tidak bisa didelegasikan.
Insiden di GT Ciawi 2 bukan kejadian pertama di titik itu. Pada 4 Februari 2025, sebuah truk bermuatan air mineral diduga mengalami rem blong dan menabrak kendaraan yang antre di gerbang, menyebabkan delapan orang meninggal dunia dan sebelas lainnya luka-luka. Pada 2 Juni 2025, sebuah truk menghantam pembatas dan tiga gardu rusak tanpa korban jiwa. Tirto mencatat insiden 4 September 2025 sebagai kecelakaan ketiga di GT Ciawi 2 sepanjang tahun itu. Pola yang berulang di titik yang sama menunjukkan bahwa persoalan ini bukan semata kelalaian satu pengemudi, melainkan persoalan sistemik: kelaikan kendaraan, pengawasan muatan, dan kesiapan pengemudi pada jalur menurun menuju gerbang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Kapan dan di mana kecelakaan truk kontainer di GT Ciawi 2 terjadi? Insiden terjadi pada Kamis, 4 September 2025 dini hari di Gerbang Tol Ciawi 2, Jalan Tol Jagorawi, Kota Bogor, Jawa Barat, pada lajur yang melayani arus menuju Jakarta. Sejumlah laporan menyebut waktu sekitar pukul 02.30 WIB, laporan lain menyebut sekitar pukul 03.00 WIB.
2. Berapa korban dalam insiden tersebut? Tidak ada laporan korban jiwa. Seorang petugas Jasa Marga mengalami luka ringan dan dibawa ke RS Ciawi untuk perawatan.
3. Apa penyebab kecelakaan? Penyebab resmi belum ditetapkan. Kepolisian dan operator menyatakan truk kontainer diduga mengalami gangguan pengereman atau rem blong sebelum menabrak pembatas lajur dan gardu tol. Penyebab pasti masih menunggu hasil penyelidikan.
4. Berapa gardu yang rusak dan bagaimana dampaknya pada layanan? Tiga gardu rusak, sehingga hanya enam gardu yang masih beroperasi. Operator mengerahkan tiga unit mobile reader dan bantuan tapping oleh petugas. Antrean kendaraan menuju Jakarta sempat mencapai sekitar satu kilometer saat evakuasi berlangsung.
5. Apakah truk tersebut dinyatakan tidak layak jalan? Tidak. Kementerian Perhubungan mencatat uji berkala truk kontainer masih berlaku hingga 15 September 2025 dan truk kedua hingga 15 Februari 2026. Namun uji berkala menilai kondisi kendaraan pada saat pengujian, bukan kondisi rem pada hari kejadian setelah perjalanan dengan muatan penuh.
6. Apa yang harus dilakukan jika melihat kendaraan besar mendekat terlalu cepat di gerbang tol? Segera beri ruang: jangan berhenti tepat di belakang kendaraan lain, arahkan kendaraan ke lajur yang lebih longgar bila memungkinkan, dan siapkan ruang manuver. Jika benturan tidak terhindarkan, arahkan kendaraan menjauhi antrean padat daripada menerobos kendaraan di depan.
Kesimpulan
Kecelakaan truk kontainer di GT Ciawi 2 pada 4 September 2025 menambah daftar panjang insiden kendaraan berat di titik yang sama. Yang membuatnya penting bukan hanya kerusakan tiga gardu atau antrean satu kilometer, tetapi pola yang berulang: kendaraan yang secara administratif laik jalan tetap bisa kehilangan kemampuan mengerem ketika panas, beban, dan geometri jalan bertemu pada satu titik.
Karena itu, keselamatan di area gerbang tol tidak bisa diserahkan pada satu pihak. Operator perlu memastikan fasilitas dan respons darurat berjalan, regulator perlu menjaga mutu uji berkala dan pengawasan muatan, perusahaan angkutan perlu merawat armada dan mengatur jam kerja pengemudi, dan pengguna jalan perlu membangun kebiasaan kecil yang menyelamatkan: memperlambat lebih awal, menjaga jarak, dan tidak berhenti di tempat yang salah.
Jika Anda merencanakan perjalanan melalui Jagorawi, Puncak, atau ruas tol lain, hitung dulu estimasi biaya perjalanan melalui kalkulator tarif tol cektol.id agar anggaran dan waktu perjalanan lebih terencana. Untuk yang sering melintasi jalur menurun, simak juga tips berkendara aman di tanjakan dan turunan jalan tol, lalu periksa kembali estimasi tarif rute Anda di halaman cek tarif sebelum berangkat.
Informasi Terkait
- Jalur Penyelamat Tol Cipularang: Fungsi dan Cara Kerja
- Panduan Darurat Tol: Mogok, Ban Kempes, dan Kecelakaan
- Tips Berkendara Aman di Tanjakan dan Turunan Jalan Tol
Sumber
- ANTARA News — “Truk kontainer alami rem blong, tabrak Gerbang Tol Ciawi 2 Bogor” (4 September 2025). https://sumbar.antaranews.com/berita/709417/polhukam
- detikNews — “Kronologi Truk Kontainer Tabrak GT Ciawi 2 hingga Gardu Tol Porak Poranda” (4 September 2025). https://news.detik.com/berita/d-8095578/kronologi-truk-kontainer-tabrak-gt-ciawi-2-hingga-gardu-tol-porak-poranda
- detikNews — “5 Fakta Gerbang Tol Ciawi 2 Porak Poranda Ditabrak 2 Truk” (5 September 2025). https://news.detik.com/berita/d-8097171/5-fakta-gerbang-tol-ciawi-2-porak-poranda-ditabrak-2-truk
- detikFinance — “Kemenhub Ungkap Kronologi Kecelakaan Truk di Gerbang Tol Ciawi” (4 September 2025). https://finance.detik.com/infrastruktur/d-8096294/kemenhub-ungkap-kronologi-kecelakaan-truk-di-gerbang-tol-ciawi



