Cek Tarif Tol

9 Ruas Tol Baru Jabar 2026-2029: Getaci & Sentul

Pemerintah menyiapkan 9 ruas tol baru Jawa Barat 2026-2029 sepanjang 266,66 km dengan investasi Rp134,5 triliun. Simak daftar lengkap, rute, dan jadwalnya.

9 Ruas Tol Baru Jabar 2026-2029: Getaci & Sentul

9 Ruas Tol Baru Jabar 2026-2029: Getaci & Sentul

Jawa Barat bersiap memasuki babak baru pembangunan infrastruktur jalan bebas hambatan. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Barat mengumumkan rencana pembangunan sembilan ruas jalan tol baru yang akan digarap bertahap pada periode 2025 hingga 2029. Informasi ini disampaikan melalui kanal resmi Instagram @bappedajabar dan kemudian diperkuat oleh pemberitaan sejumlah media daerah, termasuk infobandungnews.com dalam laporan berjudul “Jabar Genjot Konektivitas, 9 Jalan Tol Baru Siap Dibangun Mulai 2026”.

Angka besarnya cukup mengejutkan: total panjang sembilan ruas tersebut mencapai sekitar 266,66 kilometer dengan indikasi investasi menyentuh Rp134,5 triliun. Proyek ini menjadi salah satu paket pembangunan jalan tol terbesar yang pernah direncanakan di wilayah Provinsi Jawa Barat dalam satu periode perencanaan. Bagi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi — yang akrab disapa KDM — jaringan tol baru ini bukan sekadar proyek beton, melainkan tulang punggung pemerataan ekonomi.

Perlu ditegaskan sejak awal: sebagian besar ruas yang dibahas dalam artikel ini masih berstatus rencana dan tahap penyiapan. Belum ada satu pun yang beroperasi, sehingga belum ada tarif resmi yang ditetapkan untuk ruas-ruas baru tersebut. Tarif jalan tol hanya bisa dihitung dan ditetapkan setelah ruas selesai dibangun, diuji laik fungsi, dan diresmikan oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Karena itu, jika Anda menemukan angka tarif untuk ruas-ruas ini di internet, besar kemungkinan itu masih estimasi atau bahkan tidak berdasar.

Mengapa Rencana Ini Penting

Kemacetan di Jawa Barat, khususnya di koridor Bandung Raya dan jalur utara menuju Bekasi–Karawang, sudah lama menjadi persoalan struktural. Jalan nasional yang ada tidak lagi mampu menampung volume kendaraan, terutama pada akhir pekan, libur panjang, dan musim mudik. Rute Bandung–Tasikmalaya yang jaraknya hanya sekitar 100 kilometer kerap harus ditempuh hingga tiga jam karena kepadatan lalu lintas.

Sembilan ruas tol baru ini dirancang untuk menutup celah jaringan yang belum terhubung. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyebut pendekatan ini sebagai upaya membangun sirkulasi ekonomi: ketika jalan nasional, jalan tol, jalan provinsi, jalan kabupaten, hingga jalan desa saling terkoneksi dengan baik, arus barang dan orang bergerak lebih cepat dan biaya logistik turun. Gubernur Dedi Mulyadi bahkan menargetkan pada 2027 seluruh jaringan jalan di Jawa Barat — mulai jalan nasional hingga jalan desa — terhubung mantap dan mulus.

Dari kacamata pengguna jalan, kehadiran ruas-ruas baru ini berpotensi memangkas waktu tempuh antarwilayah, membuka alternatif rute saat jalur utama padat, dan menyebarkan titik pertumbuhan ekonomi baru di selatan dan utara Jawa Barat. Sementara bagi pelaku usaha, konektivitas yang lebih baik berarti rantai pasok yang lebih efisien, khususnya untuk kawasan industri Karawang, Cikarang, dan Bandung Raya.

Konteks Angka: 266,66 Km dan Rp134,5 Triliun

Dalam unggahan resminya, Bappeda Jabar menyatakan bahwa pemerintah pusat merencanakan pembangunan sembilan ruas jalan tol baru di wilayah Provinsi Jawa Barat pada periode 2025–2029 dengan total panjang sekitar 266,66 km dan indikasi investasi Rp134,5 triliun. Angka investasi yang tertulis lengkap dalam data perencanaan mencapai Rp134.542.000.000.000.

Dari sembilan ruas tersebut, enam di antaranya diproyeksikan mulai memasuki tahap konstruksi pada 2026. Pelaksanaannya sangat bergantung pada dua faktor utama: ketersediaan pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta minat investor melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Artinya, jadwal yang tertera bersifat target perencanaan dan bisa bergeser mengikuti dinamika pembebasan lahan, kesiapan dokumen, dan hasil lelang investor.

Ada satu catatan penting soal angka. Jika Anda menjumlahkan panjang tiap ruas secara terpisah, hasilnya bisa sedikit berbeda dari 266,66 km. Perbedaan ini muncul karena sebagian sumber menghitung berdasarkan seksi, tahap prioritas, atau pembulatan. Karena itu, artikel ini menyajikan rentang dan menyebut sumbernya secara terbuka, bukan menetapkan satu angka mutlak.

Tabel 1: Daftar 9 Ruas Tol Baru Jawa Barat 2025-2029

Tabel berikut merangkum kesembilan ruas berdasarkan data perencanaan Bappeda Jabar dan pemberitaan terkait. Angka panjang dan biaya bersifat indikatif.

NoNama ruasPanjang (km)Estimasi biayaJadwal konstruksiKeterangan
1Tol Getaci (prioritas Gedebage–Tasikmalaya)±95Bagian dari paket Getaci2026–2029Prioritas tahap awal, operasi 2029
2Tol Dalam Kota Bandung (BIUTR)±18,10±Rp10,1 triliun2026–2029Pasteur, Suci, Ujungberung, cabang Cileunyi
3Sentul Selatan–Karawang Barat33,62±Rp33,3 triliun2025–2028Bagian jaringan JORR III
4Cikunir–Karawaci (Elevated)40±Rp26,1 triliun2027–2029Kurangi beban Jakarta–Cikampek
5Bogor–Serpong via Parung32,03IndikatifBertahapPenghubung Bogor–Tangerang Selatan
6Akses Patimban Extend22,69±Rp5,4 triliun2026–2028Dukung pelabuhan Patimban
7Caringin–Cisarua18,41±Rp8,08 triliun2026–2028Alternatif kawasan Puncak
8Sukabumi–Ciranjang28,80±Rp9,4 triliun2027–2029Bagian koridor Bocimi–Padaleunyi
9Ciranjang–Padalarang27,80±Rp7,7 triliun2027–2029Menyambung ke Tol Padaleunyi

Angka investasi untuk ruas Sukabumi–Ciranjang dan Ciranjang–Padalarang dalam sejumlah sumber disajikan sebagai satu koridor Sukabumi–Ciranjang–Padalarang. Total panjang kedua ruas bila digabung sekitar 56,6 km, dan inilah jarak tambahan yang akan menyambungkan Tol Bocimi dengan Tol Padaleunyi di kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Tabel 2: Ringkasan per Prioritas Konstruksi

Untuk memudahkan membaca jadwal, tabel kedua mengelompokkan ruas berdasarkan tahun mulai konstruksi.

Tahun mulaiRuasJumlah ruas
2025Sentul Selatan–Karawang Barat1
2026Getaci, Tol Dalam Kota Bandung, Akses Patimban Extend, Caringin–Cisarua4
2027Cikunir–Karawaci, Sukabumi–Ciranjang, Ciranjang–Padalarang3
BertahapBogor–Serpong via Parung1

Dua ruas yang mulai lebih dahulu — Sentul Selatan–Karawang Barat dan paket konstruksi 2026 — menjadi indikator awal apakah target keseluruhan bisa dijaga. Jika tahap awal berjalan lancar, ruas-ruas berikutnya berpeluang mengikuti sesuai jadwal.

Tol Getaci: Prioritas Utama di Selatan Jawa Barat

Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci) adalah nama yang paling sering disebut dalam rencana ini. Proyek ini bahkan digadang-gadang menjadi jalan tol terpanjang di Indonesia dengan total panjang mencapai 206,65 km, membentang dari Jawa Barat hingga Jawa Tengah. Namun pada periode perencanaan 2025–2029, yang diprioritaskan adalah tahap awal, yakni ruas Gedebage–Garut–Tasikmalaya sepanjang sekitar 95 kilometer.

Tol Getaci dibagi menjadi empat seksi: Seksi 1 Junction Gedebage–Garut Utara (45,20 km), Seksi 2 Garut Utara–Tasikmalaya (50,32 km), Seksi 3 Tasikmalaya–Patimuan (76,78 km), dan Seksi 4 Patimuan–Cilacap (34,35 km). Untuk tahap prioritas, konstruksi Gedebage–Tasikmalaya ditargetkan dimulai pada 2026 dan beroperasi pada 2029.

Manfaat ruas ini sangat strategis. Wilayah selatan Jawa Barat — Garut, Tasikmalaya, hingga Pangandaran — selama ini tertinggal secara konektivitas karena jaringan tol paling selatan hanya sampai Soreang. Padahal kawasan tersebut memiliki beragam industri kerajinan dan potensi pariwisata yang besar. Dengan tol baru, perjalanan dari Tasikmalaya menuju Bandung yang biasanya memakan waktu hingga tiga jam berpotensi dipangkas signifikan.

Perlu dicatat pula bahwa Tol Getaci sempat mengalami dinamika investor. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan memberikan dukungan Project Development Facility (PDF) untuk mempercepat penyiapan proyek, mulai dari pembaruan studi kelayakan hingga proses lelang. Pembahasan lebih lengkap soal dukungan pembiayaan ini pernah kami ulas dalam artikel Tol Getaci dan Dukungan Kemenkeu. Semua dokumen tersebut harus rampung sebelum konstruksi bisa berjalan penuh.

Tol Dalam Kota Bandung (BIUTR): Solusi Kemacetan Bandung Raya

Ruas kedua yang menjadi sorotan adalah Tol Dalam Kota Bandung atau yang dikenal sebagai Bandung Intra Urban Toll Road (BIUTR). Panjangnya sekitar 18,10 kilometer dengan nilai investasi sekitar Rp10,1 triliun, ditargetkan dikonstruksi pada 2026 hingga 2029.

Rute ruas ini melintasi sejumlah titik penting di dalam kota, yakni terhubung dengan Jalan Dr. Djunjunan (Pasteur), PHH Mustofa (Suci), kawasan RS Ujungberung, serta memiliki cabang menuju Cileunyi. Fungsi utamanya adalah menjadi akses intra-urban yang mengurai lalu lintas di dalam Kota Bandung, sekaligus menghubungkan pemakai jalan dari berbagai gerbang tol di pinggiran kota tanpa harus melewati pusat kota yang padat.

Bagi warga Bandung, kehadiran BIUTR berpotensi mempercepat perjalanan harian antarwilayah di dalam kota dan mengurangi ketergantungan pada jalan arteri. Saat akhir pekan dan libur panjang, jalur ini bisa menjadi alternatif untuk menghindari penumpukan kendaraan di titik-titik rawan macet.

Sentul Selatan–Karawang Barat: Menghubungkan Bogor, Bekasi, Karawang

Ruas Sentul Selatan–Karawang Barat memiliki panjang 33,62 kilometer dengan estimasi investasi Rp33,3 triliun dan target konstruksi 2025–2028. Jalur ini dirancang sebagai bagian dari jaringan Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR) III, menghubungkan kawasan Lido dan Bogor dengan Bekasi serta Karawang.

Peran ruas ini sangat penting untuk arus logistik kawasan industri. Koridor Karawang–Cibitung merupakan salah satu pusat manufaktur terbesar di Indonesia. Dengan ruas tol baru, truk dan kendaraan niaga dapat bergerak lebih langsung tanpa harus menumpuk di jalur utara yang sudah sangat padat. Beberapa sumber menyebut ruas ini sebagai Sentul Selatan–Karawang Barat dan ada pula yang menulis panjangnya 33,82 km — perbedaan tipis yang lazim terjadi pada tahap perencanaan.

Cikunir–Karawaci Elevated: Meringankan Koridor Utara Jabodetabek

Ruas Cikunir–Karawaci yang dibangun dengan konstruksi layang (elevated) ini disebut memiliki panjang 40 kilometer dengan estimasi biaya sekitar Rp26,1 triliun, ditargetkan dibangun pada 2027–2029. Meskipun berada di kawasan Jabodetabek, ruas ini berpengaruh langsung pada mobilitas menuju dan dari Jawa Barat karena menghubungkan koridor timur Jakarta, Bekasi, dan Tangerang.

Beban Tol Jakarta–Cikampek dan Tol Jakarta–Tangerang yang selama ini kronis diharapkan berkurang ketika ruas elevated ini beroperasi. Bagi pengguna jalan yang sering menempuh perjalanan dari Jawa Barat ke arah barat, kehadiran alternatif ini bisa menjadi pertimbangan dalam merencanakan rute.

Koridor Sukabumi–Ciranjang–Padalarang: Menyambungkan Bocimi dan Padaleunyi

Dua ruas dalam daftar ini — Sukabumi–Ciranjang (28,80 km) dan Ciranjang–Padalarang (27,80 km) — sebaiknya dibaca sebagai satu kesatuan koridor. Keduanya sama-sama ditargetkan mulai dikonstruksi pada 2027 dan selesai pada 2029.

Fungsi utamanya adalah menyambungkan Tol Bogor–Ciawi–Sukabumi (Bocimi) dengan Tol Padalarang–Cileunyi (Padaleunyi). Bila terwujud, perjalanan dari Bogor atau Sukabumi menuju Bandung dan sekitarnya tidak lagi harus memutar melalui jalur yang padat. Total panjang kedua ruas sekitar 56,6 km, dan nilai investasi koridor ini diindikasikan sekitar Rp9,4 triliun untuk Sukabumi–Ciranjang serta Rp7,7 triliun untuk Ciranjang–Padalarang.

Gubernur Dedi Mulyadi menyatakan dukungan penuh terhadap perpanjangan Tol Bocimi hingga Padalarang, yang masuk dalam daftar proyek strategis nasional. Dengan demikian, koridor ini menjadi salah satu ruas yang paling dinanti warga Sukabumi dan Cianjur yang rutin bepergian ke Bandung.

Akses Patimban Extend dan Caringin–Cisarua

Dua ruas lain melengkapi daftar. Pertama, Akses Patimban Extend sepanjang 22,69 kilometer dengan estimasi biaya sekitar Rp5,4 triliun dan target konstruksi 2026–2028. Ruas ini mendukung konektivitas menuju Pelabuhan Patimban di Subang, yang selama ini menjadi pintu gerbang logistik penting di utara Jawa Barat. Perkembangan ruas akses ini pernah kami bahas dalam artikel Progres Tol Akses Patimban.

Kedua, Tol Caringin–Cisarua sepanjang 18,41 kilometer dengan estimasi biaya sekitar Rp8,08 triliun dan jadwal 2026–2028. Ruas ini menyasar kawasan Puncak yang terkenal sangat padat saat akhir pekan dan musim liburan. Sebagian sumber menyebut rencana ini sebagai bagian dari wacana Tol Puncak yang menghubungkan Caringin, Megamendung, Cisarua, hingga Cianjur dengan total panjang sekitar 51,8 km. Jika terealisasi, wisatawan menuju kawasan Puncak akan memiliki alternatif rute yang lebih lancar.

Manfaat yang Diharapkan

Secara ringkas, ada lima manfaat utama yang diharapkan dari sembilan ruas tol baru ini:

  1. Mengurangi kemacetan kronis. Koridor Bandung Raya, jalur selatan Jawa Barat, dan rute menuju Puncak yang selama ini padat akan memiliki alternatif jalur bebas hambatan.
  2. Menurunkan biaya logistik. Arus barang dari kawasan industri Karawang, Cikarang, dan Bandung Raya bisa bergerak lebih cepat sehingga biaya distribusi turun dan daya saing industri naik.
  3. Mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Wilayah selatan Jawa Barat seperti Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran berpotensi terbuka lebih lebar bagi pariwisata dan investasi baru.
  4. Memperkuat konektivitas antarkoridor. Ruas-ruas baru ini menyambungkan tol yang sebelumnya belum terhubung, seperti Bocimi dengan Padaleunyi, sehingga jaringan menjadi utuh.
  5. Mendukung simpul logistik nasional. Akses menuju Pelabuhan Patimban dan koneksi menuju kawasan timur Jakarta memperkuat peran Jawa Barat sebagai tulang punggung logistik nasional.

Untuk perencanaan perjalanan, Anda bisa memantau estimasi biaya dan rute tol yang sudah beroperasi melalui halaman cek tarif tol di cektol.id. Perlu diingat, ruas-ruas baru dalam daftar 9 tersebut belum beroperasi sehingga tarifnya belum tersedia dan baru akan ditetapkan setelah uji laik fungsi.

Tanggapan dan Arah Kebijakan

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur jalan menjadi salah satu prioritas utama pemerintahannya. Ia menargetkan pada 2027 seluruh jalan di Jawa Barat — jalan nasional, jalan tol, jalan provinsi, jalan kabupaten, hingga jalan desa — terkoneksi dengan baik dan mulus, karena keyakinannya sirkulasi ekonomi hanya lahir dari konektivitas yang memadai.

Pendekatan sembilan ruas tol baru ini pun tidak berdiri sendiri. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memposisikannya sebagai bagian dari strategi konektivitas yang lebih luas: menghubungkan antarkota, antarwilayah, hingga pelosok desa, agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya menumpuk di pusat kota. Pernyataan resmi mengenai arah kebijakan ini tersampaikan melalui kanal Bappeda Jabar dan berbagai agenda pemerintahan provinsi.

Yang perlu dipahami, seluruh target jadwal dalam rencana ini bersifat indikatif. Pelaksanaannya bergantung pada kesiapan pendanaan APBN, minat investor lewat skema KPBU, penyelesaian pembebasan lahan, serta kelengkapan dokumen lingkungan dan kelayakan. Karena itu, wajar bila tanggal yang beredar di berbagai media saling berbeda tipis. Sebagai konsumen informasi, sebaiknya selalu merujuk pada pengumuman resmi Bappeda Jabar, Kementerian Pekerjaan Umum, atau BPJT untuk pembaruan.

FAQ

Apakah 9 ruas tol baru Jawa Barat ini sudah beroperasi?

Belum. Seluruh ruas dalam daftar masih berstatus rencana dan tahap penyiapan. Sebagian ditargetkan mulai dikonstruksi pada 2026, dengan ruas paling akhir diproyeksikan selesai pada 2029.

Berapa total panjang dan nilai investasi proyek ini?

Menurut data perencanaan Bappeda Jabar, total panjangnya sekitar 266,66 km dengan indikasi investasi Rp134,5 triliun (tertulis lengkap Rp134.542.000.000.000).

Apakah sudah ada tarif tol untuk ruas-ruas baru ini?

Belum ada. Tarif jalan tol baru ditetapkan setelah ruas selesai dibangun dan lulus uji laik fungsi. Jangan berpatokan pada angka tarif ruas ini yang beredar bebas karena belum resmi. Untuk tarif ruas yang sudah beroperasi, gunakan halaman cek tarif tol.

Siapa yang membangun proyek ini?

Pemerintah pusat merencanakan pembangunan, sementara pelaksanaannya bergantung pada pendanaan APBN dan minat investor melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong percepatan melalui koordinasi dan penyiapan lahan.

Ruas mana yang menjadi prioritas utama?

Tol Getaci pada tahap Gedebage–Garut–Tasikmalaya sepanjang sekitar 95 km disebut sebagai prioritas utama, ditargetkan dikonstruksi 2026 dan beroperasi 2029.

Apakah jadwal 2026 pasti terpenuhi?

Tidak bisa dipastikan. Jadwal bersifat target perencanaan dan dapat bergeser mengikuti kesiapan pembebasan lahan, dokumen, pendanaan, dan hasil lelang investor.

Bagaimana cara memantau perkembangan proyek ini?

Pantau akun resmi Bappeda Jabar, laman Kementerian Pekerjaan Umum, dan BPJT. Untuk informasi tarif ruas yang sudah beroperasi, kunjungi cek tarif tol. Anda juga dapat membaca pembaruan umum proyek tol di Progres Pembangunan Tol Baru 2026.

Kesimpulan

Sembilan ruas tol baru Jawa Barat periode 2025–2029 adalah rencana besar dengan total panjang sekitar 266,66 km dan indikasi investasi Rp134,5 triliun. Mulai dari Tol Getaci di selatan hingga koridor Sukabumi–Ciranjang–Padalarang di barat, proyek ini menyasar kemacetan, biaya logistik, dan pemerataan ekonomi. Namun semuanya masih berupa rencana: belum ada yang beroperasi, dan belum ada tarif resmi untuk ruas-ruas tersebut.

Jika Anda ingin merencanakan perjalanan yang sudah bisa dihitung biayanya hari ini, cek estimasi melalui kalkulator cek tarif tol di cektol.id. Untuk memahami konteks lebih luas tentang jaringan tol nasional, Anda juga bisa membaca Sejarah Jalan Tol Indonesia dari Jagorawi ke Trans Jawa. Selalu verifikasi ketentuan terkini karena tarif dan jadwal proyek dapat berubah sesuai evaluasi BPJT.

Sumber

  • Bappeda Provinsi Jawa Barat, unggahan resmi akun Instagram @bappedajabar mengenai rencana 9 ruas jalan tol baru Jawa Barat periode 2025–2029 (data perencanaan infrastruktur Jawa Barat).
  • Tribunjabar.id, “9 Ruas Jalan Tol di Jawa Barat Dibangun Tahun 2025-2029 Total Panjang 266,66 Km” (diakses 3 Oktober 2026).
  • Infobandungnews.com, “Jabar Genjot Konektivitas, 9 Jalan Tol Baru Siap Dibangun Mulai 2026”.
  • Kementerian Pekerjaan Umum / Ditjen Bina Marga dan pemberitaan konstruksimedia.com mengenai dukungan pembiayaan dan prioritas Tol Getaci (2026).

Sponsored

← Kembali ke semua artikelCek tarif tol →
Iklan