Anggaran Tol 2027: Rp 3,29 Triliun untuk 3 Ruas Prioritas
Peta pembangunan jalan tol Indonesia tahun depan mulai terlihat jelas. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (22/9/2026), Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Ni Komang Rasminiati menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan anggaran Rp 3,29 triliun dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 2027. Dana itu bukan untuk membangun banyak ruas baru, melainkan untuk menuntaskan tiga proyek jalan tol yang masih dalam tahap konstruksi.
Bagi pengguna jalan tol, keputusan anggaran ini bukan sekadar berita antar-instansi. Tiga ruas yang mendapat dukungan konstruksi pemerintah itu berada di koridor yang berbeda: Banten selatan, pesisir utara Jawa Tengah, dan kawasan industri Subang di Jawa Barat. Artinya, arah pengembangan jaringan tol 2027–2028 sudah bisa dibaca dari alokasi ini, termasuk perkiraan ruas mana yang akan mulai berbayar dan perlu Anda masukkan ke perhitungan biaya perjalanan lewat kalkulator tarif tol.
Tiga Ruas yang Menerima Dukungan Konstruksi 2027
Komang menyebut tiga proyek yang mendapat dukungan konstruksi pemerintah atau yang biasa disebut dukungan kelayakan (viability gap fund/VGF). Skema ini dipakai ketika nilai keekonomian sebuah ruas tidak cukup menarik bagi badan usaha jalan tol (BUJT) jika harus ditanggung sendiri, sehingga pemerintah ikut menanggung sebagian biaya konstruksi agar proyek tetap berjalan.
Ketiga ruas tersebut adalah:
- Jalan Tol Serang–Panimbang (Banten) — koridor penghubung Serang dengan kawasan Panimbang dan KEK Tanjung Lesung di Banten selatan, dengan total panjang sekitar 83,76 kilometer.
- Jalan Tol Semarang–Demak, khususnya Seksi Semarang–Sayung (Jawa Tengah) — ruas yang dibangun di atas laut dan sekaligus berfungsi sebagai tanggul laut pengendali rob Pantura.
- Jalan Tol Akses Patimban (Jawa Barat) — akses langsung dari Tol Cikopo–Palimanan (Cipali) menuju Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang.
Dalam Raker bersama Komisi V DPR pada 7 September 2026, BPJT menyampaikan bahwa program pembangunan jalan tol 2027 menargetkan penambahan sekitar 13,5 kilometer ruas baru, dengan alokasi yang saat itu disebut Rp 3,15 triliun. Dua pekan kemudian, angka yang disampaikan dalam RDP berubah menjadi Rp 3,29 triliun. Perbedaan ini menunjukkan alokasi masih dalam tahap pembahasan bersama DPR, dan angka final baru mengikat setelah APBN 2027 disahkan.
Sebagai konteks, anggaran dukungan jalan tol tersebut masuk ke dalam pagu indikatif Direktorat Jenderal Bina Marga tahun anggaran 2027 yang ditetapkan sekitar Rp 37,30 triliun. Dari pagu itu, Direktorat Jenderal Bina Marga juga membiayai pembangunan jalan baru non-tol sepanjang 200,44 kilometer, peningkatan kapasitas dan preservasi jalan 932,71 kilometer, serta preservasi rutin jalan hampir 47.603 kilometer.
| Ruas | Wilayah | Status konstruksi terkini | Catatan penting |
|---|---|---|---|
| Serang–Panimbang | Banten | Seksi 2 dan 3 ditargetkan beroperasi Oktober 2026; pembebasan lahan Seksi 3 sekitar 90 persen | Bagian dari pengembangan Banten selatan dan KEK Tanjung Lesung |
| Semarang–Demak Seksi 1 | Jawa Tengah | Rata-rata progres sekitar 51 persen per September 2026 | Dibangun di atas laut, terintegrasi tanggul laut dan kolam retensi Terboyo |
| Akses Patimban | Jawa Barat | Segmen pemerintah 22,94 km di atas 69 persen; segmen BUJT masih di bawah 20 persen | Tersambung ke Cipali di KM 89+475 dan Pelabuhan Patimban |
Mengapa Anggaran Tol 2027 Justru Terlihat Ketat
Membaca angka Rp 3,29 triliun untuk tambahan 13,5 kilometer, kesan pertama yang muncul adalah bahwa tahun 2027 bukan tahun ekspansi besar-besaran. Pemerintah tampak memilih menuntaskan proyek yang sudah berjalan dibanding memulai banyak ruas baru sekaligus.
Ada logika yang masuk akal di balik pilihan itu. Proyek yang konstruksinya sudah di atas 50 persen membutuhkan biaya penuntasan yang lebih pasti dan memberi manfaat lebih cepat dibanding proyek yang baru dimulai. Selain itu, sejumlah ruas yang belum rampung menghadapi persoalan pembebasan lahan, kondisi tanah lunak, dan pekerjaan struktur yang kompleks, sehingga memerlukan pendanaan lebih besar per kilometer.
Dampaknya bagi pengguna cukup jelas. Ruas yang sudah dioperasikan secara fungsional pada periode libur panjang, seperti sejumlah segmen yang difungsikan saat Lebaran dan menjelang Nataru, berpeluang lebih cepat beralih ke status operasional penuh dan berbayar. Karena itu, penting memantau perkembangan status ruas favorit Anda, sebagaimana tercatat pada pembahasan aturan baru jalan tol 2026 soal SPM dan integrasi tarif.
Untuk konteks per ruas, perkembangan tiga proyek tersebut sepanjang 2026 cukup beragam:
- Serang–Panimbang. Pengelola menyebut pekerjaan fisik Seksi 2 Rangkasbitung–Cileles (24,17 km) dan Seksi 3 Cileles–Panimbang (33 km) sudah mencapai 100 persen, dengan pengajuan uji laik fungsi ke pemerintah dan target operasi Oktober 2026. Pemerintah Kabupaten Pandeglang menyebut pembebasan lahan Seksi 3 sekitar 90 persen, dengan target difungsikan pada November 2026 dan operasional penuh pada awal 2027. Rincian tarif ruas ini kami bahas di artikel tarif Tol Serang–Panimbang.
- Semarang–Demak Seksi 1. BPJT melaporkan progres rata-rata konstruksi Seksi 1 sekitar 51 persen per September 2026, terdiri atas paket 1A di kisaran 71 persen, paket 1B sekitar 50 persen, dan paket 1C di kisaran 32 persen. Seksi 1 sepanjang 10,64 kilometer dibangun di atas laut dengan teknologi khusus dan berfungsi ganda sebagai penahan rob. Latar belakang proyek ini kami ulas di Tol Semarang–Demak sebagai solusi macet dan banjir rob.
- Akses Patimban. Ruas ini punya dua porsi: segmen pemerintah 22,94 kilometer dengan progres di atas 69 persen, dan segmen BUJT 14,11 kilometer yang progresnya masih di bawah 20 persen karena baru mulai dikerjakan pada 2026. Sebagian paket segmen pemerintah ditargetkan selesai pada kuartal IV 2026, sementara paket terakhir menuju Maret 2027. Perkembangan terakhir bisa dibaca di progres Tol Akses Patimban.
Kewajiban PBBL Tol Betung–Tempino–Jambi dan Kekurangan Rp 155 Miliar
Selain dukungan konstruksi, BPJT juga membahas kewajiban pemerintah dalam skema pembayaran berkala berbasis layanan (PBBL) atau availability payment untuk Jalan Tol Betung–Tempino–Jambi di Sumatra. Skema ini membuat pemerintah membayar secara berkala kepada BUJT sepanjang masa konsesi, bukan mengandalkan pemasukan tarif saja.
Komang menyebut kebutuhan anggaran PBBL ruas tersebut pada 2027 mencapai sekitar Rp 1,5 triliun, sedangkan yang baru dialokasikan dalam RKA 2027 sebesar Rp 1,345 triliun. Artinya masih ada selisih sekitar Rp 155 miliar. BPJT berharap kekurangan itu dapat ditutup dari anggaran sisa yang tersedia pada tahun berjalan.
Bagi publik, mekanisme PBBL penting dipahami karena menjelaskan mengapa sebagian ruas tol di Sumatra bisa tetap menarik bagi investor meski arus lalu lintasnya belum sepadat ruas di Jawa. Konsekuensinya, kewajiban pembayaran ini menjadi beban fiskal jangka panjang yang harus disiapkan setiap tahun. Ulasan soal skema dan tarifnya ada di artikel tarif Tol Betung–Tempino–Jambi dan Bayung Lencir.
Standar Pelayanan dan Pengawasan ODOL yang Ikut Diperketat
Dalam RDP yang sama, BPJT memaparkan penguatan aturan Standar Pelayanan Minimal (SPM) jalan tol melalui penyusunan rancangan peraturan menteri yang mengacu pada Permen PU Nomor 16 Tahun 2014 dan diperkuat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2024 tentang Jalan Tol.
Salah satu perubahan yang disiapkan adalah peningkatan frekuensi survei International Roughness Index (IRI), yaitu pengukuran tingkat ketidakrataan permukaan jalan, dari sekali setahun menjadi empat kali setahun atau setiap triwulan. Perubahan ini membuat operator tol dituntut mendeteksi penurunan kualitas aspal lebih cepat. Pembahasan lengkap soal IRI dan dampaknya bagi pengendara ada di artikel BPJT perkuat SPM dan cek kerataan aspal tiap triwulan.
Pengawasan terhadap kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL) juga menjadi sorotan. Saat ini telah terpasang 47 alat Weight in Motion (WIM) di jalan tol dan direncanakan bertambah 10 unit. Pengawasan dilakukan bersama Kepolisian dan Kementerian Perhubungan, termasuk integrasi dengan sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) Polri dan BLUE Kementerian Perhubungan.
Ketua Komisi V DPR RI Lasarus menekankan pentingnya memastikan pemenuhan SPM sejak tahap perencanaan dan pembangunan, bukan hanya setelah ruas beroperasi. Bagi pengguna, dua hal ini relevan karena kendaraan kelebihan muatan mempercepat kerusakan perkerasan, sementara permukaan yang rusak menurunkan kenyamanan dan keselamatan berkendara.
Kesimpulan
Alokasi Rp 3,29 triliun dalam RKA 2027 menegaskan arah kebijakan jalan tol tahun depan: menuntaskan tiga proyek prioritas — Serang–Panimbang, Semarang–Demak Seksi Semarang–Sayung, dan Akses Patimban — dengan target tambahan sekitar 13,5 kilometer ruas baru. Bersamaan dengan itu, kewajiban PBBL Tol Betung–Tempino–Jambi masih menyisakan kebutuhan sekitar Rp 155 miliar, sementara aturan SPM dan pengawasan ODOL diperketat.
Bagi Anda, langkah praktisnya sederhana. Pantau status ruas yang biasa dilalui, khususnya ruas yang sedang beroperasi fungsional, karena peralihan ke status berbayar mengubah biaya perjalanan. Perbarui perhitungan biaya lewat fitur cek tarif tol sebelum berangkat, pastikan saldo kartu uang elektronik mencukupi, dan jangan berpatokan pada tarif lama untuk perjalanan tahun depan.
Informasi Terkait
- Progres Tol Akses Patimban Terbaru — perkembangan segmen pemerintah dan BUJT.
- Seksi 2 Tol Serang–Panimbang Uji Laik Oktober 2026 — status uji laik dan target operasi.
- Tol Semarang–Demak: Solusi Macet dan Banjir Rob — gambaran proyek tanggul laut yang menjadi bagian tol.
- Tarif Tol Serang–Panimbang 2026 — perkiraan tarif dan golongan kendaraan.
Sumber
- CNBC Indonesia, “3 Proyek Tol Kantongi Alokasi Anggaran di 2027, Ini Besaran-Daftarnya”, 22 September 2026 — https://www.cnbcindonesia.com/news/20260922155005-4-769944/3-proyek-tol-kantongi-alokasi-anggaran-di-2027-ini-besaran-daftarnya
- Kompas.com, “Tahun 2027, Anggaran Rp 3,29 Triliun Siap Biayai 3 Proyek Jalan Tol”, 22 September 2026 — https://www.kompas.com/properti/read/2026/09/22/190000921/tahun-2027-anggaran-rp-3-29-triliun-siap-biayai-3-proyek-jalan-tol
- Bisnis.com, “Anggaran Infrastruktur Ketat, Pemerintah Cuma Bangun 13 KM Tol Tahun Depan”, 7 September 2026 — https://ekonomi.bisnis.com/read/20260907/45/2002029/anggaran-infrastruktur-ketat-pemerintah-cuma-bangun-13-km-tol-tahun-depan
- MediaBanten, “Jalan Tol Serang–Panimbang Seksi 2 dan 3 Ditargetkan Beroperasi Oktober 2026”, Juli 2026 — https://mediabanten.com/jalan-tol-serang-panimbang-seksi-2-dan-3-ditargetkan-beroperasi-oktober-2026
- detikFinance, “Proyek Tol Akses Patimban Dikebut, Begini Progresnya”, 2026 — https://finance.detik.com/infrastruktur/d-8631483/proyek-tol-akses-patimban-dikebut-begini-progresnya



