Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU) Diana Kusumastuti meninjau langsung penanganan pergerakan tanah dan longsor di Jalan Tol Cileunyi–Sumedang–Dawuan (Cisumdawu), tepatnya di KM 177 dan KM 207 Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada Jumat, 28 Agustus 2026. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan progres perbaikan berjalan sesuai rencana, terutama menjelang musim hujan yang kerap memicu pergerakan tanah di kawasan perbukitan Sumedang.
Berdasarkan laporan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) yang terbit pada 7 September 2026, penanganan longsor di KM 177 telah mencapai progres 18,92 persen, sementara di KM 207 telah menembus 59,32 persen. Bagi pengguna jalan tol yang rutin melintasi rute Bandung–Cirebon, kabar ini penting untuk dipahami agar perjalanan tetap aman dan nyaman. Di akhir artikel, kami juga sertakan cara praktis mengecek tarif tol sebelum berangkat.
Kronologi Longsor di Tol Cisumdawu dan Faktor Penyebabnya
Tol Cisumdawu yang diresmikan pada 11 Juli 2023 merupakan ruas tol strategis penghubung Jalan Tol Padaleunyi dengan Jalan Tol Cikopo-Palimanan. Ruas ini memangkas waktu tempuh Bandung–Cirebon menjadi sekitar satu jam dan Bandung–Bandara Kertajati menjadi sekitar 40 menit. Salah satu keunikan ruas tol ini adalah keberadaan terowongan kembar (twin tunnel) sepanjang 472 meter di Seksi II dengan diameter 14 meter.
Namun, medan yang dilalui Tol Cisumdawu berupa perbukitan dengan kemiringan lebih dari 30 derajat serta tanah vulkanik muda yang mudah jenuh air, menjadikan ruas ini rawan pergerakan tanah. Sejak awal pembangunannya, kawasan ini memang diketahui rentan longsor, dan operator PT Citra Karya Jabar Tol (CKJT) telah menerapkan teknologi geofoam untuk meredam beban timbunan di area rawan.
Peristiwa paling signifikan terjadi pada 8 April 2026, ketika terjadi longsor di KM 207+300 hingga KM 207+400 arah Bandung–Cirebon. Bagian jalan sepanjang 80 meter dengan kedalaman dua meter mengalami retak sliding, yang memaksa kepolisian memberlakukan rekayasa lalu lintas contraflow selama sekitar empat bulan untuk menjaga kelancaran arus kendaraan. Sementara itu, pergerakan tanah di KM 177 juga mulai terdeteksi dan masuk dalam program penanganan prioritas.
Progres Penanganan Longsor di KM 177 dan KM 207
Penanganan longsor di kedua titik dilakukan secara bertahap dengan pendekatan menyeluruh: memperkuat area terdampak, mengendalikan aliran air, hingga memulihkan kondisi badan jalan. Berikut rincian progres terbaru per Agustus 2026.
Penanganan KM 177 (progres 18,92 persen). Pekerjaan difokuskan pada penguatan lereng melalui pemasangan bore pile. Hingga 31 Agustus 2026, sebanyak 27 titik bore pile telah terpasang, tiga di antaranya telah selesai dicor, sementara 102 titik lainnya masih dalam proses pengeboran. Selain itu, pekerjaan pembongkaran pembatas jalan dan bahu jalan telah dilakukan, serta pemasangan lapisan pondasi jalan tipe B dan C sepanjang 20 meter.
Penanganan KM 207 (progres 59,32 persen). Progres di titik ini jauh lebih cepat. Pengecoran lapisan dasar saluran telah diselesaikan sepanjang 141,7 meter, diikuti pembangunan dinding saluran drainase, pengurugan area saluran, pengujian kepadatan tanah, serta pemadatan tanah secara bertahap. Struktur besi sebagai elemen konstruksi juga telah dipasang sebelum proses pengecoran dilakukan.
Dalam peninjauannya, Wamen PU Diana Kusumastuti menekankan pentingnya koordinasi dengan Balai Air Tanah Ditjen Sumber Daya Air. “Tolong dikoordinasikan dengan Balai Air Tanah Ditjen SDA, terutama untuk pencegahan pada saat musim hujan nanti sehingga aliran dapat teralirkan dengan baik dan tidak terjadi longsor lagi,” ujarnya. Peninjauan tersebut turut didampingi Plt. Kepala BBPJN DKI–Jabar Ibnu Kurniawan, Kabid Sistem Informasi Layanan Jalan Tol BPJT Djoko Satriyo, dan Direktur Utama PT CKJT Agustinus Sudrajat.
Rekayasa Lalu Lintas dan Dampaknya bagi Pengguna Jalan
Selama masa perbaikan, arus lalu lintas di sekitar titik longsor tetap dijaga dengan berbagai rekayasa. Saat longsor KM 207 A terjadi pada April 2026, jalur B (arah Cirebon–Bandung) pada KM 206+125 hingga KM 208+200 digunakan untuk skema contraflow, sehingga kendaraan dari dua arah dapat bergantian melintasi lajur yang masih aman.
Operator juga memasang rambu peringatan, pembatas kecepatan, serta lampu penerangan tambahan di sekitar area pekerjaan. Pengguna jalan diminta untuk selalu mematuhi rambu sementara dan memperlambat laju kendaraan saat melewati zona perbaikan, karena kondisi permukaan jalan di sekitar area longsor bisa berbeda dengan normal dan alat berat kerap keluar-masuk lokasi kerja.
Meskipun terjadi longsor, Tol Cisumdawu dinyatakan tetap aman dan laik dilalui selama rekayasa lalu lintas dijalankan. Namun, pengendara disarankan memantau kondisi terkini sebelum berangkat, misalnya melalui aplikasi navigasi atau pantauan kemacetan via CCTV. Jika terjadi penutupan total akibat hujan ekstrem, jalur arteri Bandung–Sumedang–Cirebon melalui jalan nasional dapat digunakan sebagai alternatif.
Tips Aman Melintas di Tol Saat Musim Hujan
Musim hujan meningkatkan risiko pergerakan tanah di kawasan perbukitan seperti Sumedang. Untuk menjaga keselamatan saat melintasi Tol Cisumdawu maupun ruas tol lain di musim hujan, perhatikan hal-hal berikut:
- Kurangi kecepatan di zona perbaikan. Area yang sedang ditangani, seperti KM 177 dan KM 207, memiliki kondisi perkerasan yang tidak merata. Patuhi batas kecepatan sementara yang dipasang di sekitar lokasi.
- Jaga jarak aman dengan kendaraan di depan. Jalan basah memperpanjang jarak pengereman. Hindari pengereman mendadak yang bisa memicu selip atau aquaplaning. Pelajari lebih lanjut teknik menghadapi genangan di artikel tips aman berkendara saat hujan deras dan aquaplaning.
- Waspadai material jatuh. Setelah hujan deras, sisa tanah, bebatuan, atau ranting bisa berada di badan jalan. Jangan menyalip di dekat area lereng yang sedang diperkuat.
- Gunakan lampu utama dan wiper yang berfungsi baik. Visibilitas menurun drastis saat hujan lebat. Jika jarak pandang terlalu pendek, berhenti di rest area terdekat hingga hujan reda.
- Siapkan saldo e-toll yang cukup. Mengisi ulang kartu di gerbang saat hujan deras berisiko dan menahan antrean. Pastikan saldo mencukupi sebelum masuk tol agar perjalanan lancar.
Jika terjadi kondisi darurat di jalan tol seperti ban kempes, mogok, atau kecelakaan, segera menepi ke bahu jalan dan hubungi call center operator. Panduan lengkapnya bisa disimak pada artikel panduan darurat di jalan tol: mogok, ban kempes, dan kecelakaan.
Kesimpulan
Penanganan longsor di Tol Cisumdawu KM 177 dan KM 207 terus berjalan dengan progres yang cukup signifikan, yaitu 18,92 persen di KM 177 dan 59,32 persen di KM 207 per akhir Agustus 2026. Pekerjaan penguatan lereng dengan bore pile, perbaikan drainase, dan pengendalian aliran air menjadi fokus utama agar ruas tol ini lebih tangguh menghadapi musim hujan dan risiko longsor susulan dapat ditekan.
Bagi pengguna jalan, yang terpenting adalah mematuhi rambu sementara, mengurangi kecepatan di zona perbaikan, dan selalu memantau kondisi lalu lintas terkini. Dengan kesiapan yang baik, perjalanan melintasi Tol Cisumdawu tetap aman meskipun proyek penanganan longsor masih berlangsung. Sebelum berangkat, jangan lupa cek tarif tol agar biaya perjalanan bisa dipersiapkan dengan matang.



