Sejarah Tol Padaleunyi: Jalan Lingkar Selatan Bandung
Bagi warga Bandung Raya, nama Padaleunyi bukan sekadar akronim. Ia adalah jalan yang setiap hari membawa ribuan kendaraan melintasi sisi selatan cekungan Bandung, dari Padalarang di barat sampai Cileunyi di timur. Jalan Tol Padalarang–Cileunyi ini adalah urat nadi yang menghubungkan Cimahi, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung dalam satu lingkaran bebas hambatan—sebuah gagasan yang lahir jauh sebelum tol-tol modern di Jawa Barat berdiri.
Tol Padaleunyi memiliki tempat istimewa dalam sejarah jaringan jalan tol Indonesia. Ia bukan hanya penghubung Jakarta ke Bandung, tetapi juga gerbang menuju Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, hingga ke Jawa Tengah dan Jawa Timur melalui jaringan jalan nasional dan tol lanjutan. Sebagai jalan lingkar selatan Bandung, ruas ini menjadi salah satu bagian paling awal dari sistem tol terintegrasi di Provinsi Jawa Barat.
Artikel ini mengupas tuntas sejarah Tol Padaleunyi—kapan dibangun, kapan diresmikan, siapa operatornya, ruas mana saja yang menjadi ikonnya, serta bagaimana sistem pembayarannya berubah dari uang tunai hingga era nirsentuh. Jika Anda hendak memperkirakan biaya perjalanan di ruas ini, gunakan kalkulator tarif tol di cektol.id agar hitungan Anda akurat.
Mengapa Bandung Butuh Jalan Lingkar Selatan
Pada dekade 1970-an hingga 1980-an, Bandung tumbuh pesat sebagai pusat pendidikan, pemerintahan, dan industri di Jawa Barat. Pertumbuhan ini membawa konsekuensi yang sama yang dihadapi hampir semua kota besar: lalu lintas antarkota dan angkutan barang mulai menumpuk di jalan-jalan arteri dalam kota. Kendaraan dari arah Jakarta, Purwakarta, dan Padalarang yang hendak menuju Cileunyi, Sumedang, atau Garut terpaksa memotong pusat kota—melewati persimpangan padat dan ruas jalan yang bercampur dengan aktivitas pasar serta permukiman.
Gagasan membangun jalan lingkar (ring road) di sisi selatan Bandung pun muncul sejak lama. Sebelum jalan tol ini ada, kendaraan yang melintas dari barat ke timur harus melewati jalur perkotaan yang lambat dan padat. Pemerintah mulai mengkaji pembangunan jalan bebas hambatan yang mengelilingi bagian selatan kota, sekaligus menyambungkan koridor barat (Padalarang dan Cimahi) dengan koridor timur (Cileunyi dan seterusnya ke arah timur Jawa).
Kebutuhan itu bukan hanya soal kenyamanan pengendara. Untuk distribusi logistik, jalur lingkar selatan berarti memangkas waktu tempuh barang dari kawasan industri Cimahi dan Padalarang menuju kawasan timur Bandung. Di sisi lain, ruas ini juga dibutuhkan sebagai penghubung masa depan menuju jaringan tol Trans Jawa. Dari sinilah proyek Jalan Tol Padalarang–Cileunyi dimulai.
Era Pembangunan 1987–1991: Padaleunyi Lahir
Pembangunan ruas Padalarang–Cileunyi berlangsung pada kisaran tahun 1987 hingga 1991. Pada masa itu, jalan tol yang menghubungkan Jakarta ke Bandung melalui tol Cikampek belum ada—ruas Cikampek–Purwakarta–Padalarang (Cipularang) baru dibangun lebih dari satu dekade kemudian. Karena itu, Padaleunyi pada awalnya berdiri sebagai jalan lingkar selatan Bandung yang otonom, bukan sebagai lanjutan Cipularang seperti yang kita kenal sekarang.
Proyek ini dikerjakan secara bertahap per segmen, mulai dari sisi Padalarang menuju Leuwigajah dan Cimahi, menyusuri sisi selatan Kota Bandung melalui Pasirkoja, Kopo, Mohammad Toha, hingga Buah Batu, lalu berlanjut ke Gedebage dan berakhir di Cileunyi. Biaya pembangunan kala itu dilaporkan mencapai sekitar Rp 1,2 triliun—angka yang sangat besar untuk ukuran akhir dekade 1980-an, mencerminkan skala proyek infrastruktur yang ambisius.
Ruas ini akhirnya resmi beroperasi sejak 11 Maret 1991, di bawah pengelolaan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Sampai hari ini, Jasa Marga tetap menjadi operatornya. Dengan total panjang sekitar 33 kilometer, Tol Padaleunyi menjadi jalan lingkar selatan Bandung yang pertama dan hingga kini menjadi ruas kunci dalam sistem jaringan tol Jawa Barat. Anda dapat melihat rincian tarif terbarunya di artikel tarif Tol Padaleunyi untuk rute Jakarta–Bandung.
Peresmian Padaleunyi menandai babak baru mobilitas Bandung Raya. Kendaraan dari arah barat tidak lagi harus menerobos pusat kota untuk mencapai sisi timur. Sebaliknya, kendaraan dari Cileunyi, Sumedang, dan Garut dapat mengakses perbatasan barat Bandung dengan lebih cepat. Fondasi inilah yang membuat Padaleunyi tetap relevan puluhan tahun kemudian.
2003–2005: Koneksi Cipularang Mengubah Segalanya
Titik balik terbesar dalam sejarah Padaleunyi terjadi pada dekade 2000-an. Setelah bertahun-tahun kajian, pemerintah membangun Jalan Tol Cikampek–Purwakarta–Padalarang (Cipularang). Pembangunannya dibagi dua tahap: tahap pertama (Cikampek–Sadang dan Padalarang–Cikamuning) dibuka pada tahun 2003, sedangkan tahap kedua (Sadang–Cikamuning, sekitar 41 kilometer) baru rampung dan dibuka pada 26 April 2005.
Ketika Cipularang selesai, Padaleunyi berubah peran. Dari jalan lingkar selatan yang berdiri sendiri, ia menjadi lanjutan langsung dari tol yang menghubungkan Jakarta dengan Bandung. Perbatasan kedua tol berada di Simpang Susun Dawuan di Kilometer 66, dan kendaraan dari arah Jakarta masuk ke koridor Bandung melalui Simpang Susun Padalarang.
Sejak saat itu, Padaleunyi menjadi bagian dari apa yang disebut Jalan Tol Purbaleunyi—akronim dari Purwakarta–Bandung–Cileunyi—dengan total panjang sekitar 90 kilometer. Rangkaian Purbaleunyi inilah yang membuat perjalanan Jakarta–Bandung hanya membutuhkan sekitar satu setengah jam bila tidak macet. Bagi Anda yang ingin memahami bagaimana Cipularang dan Purbaleunyi terbentuk, baca sejarah lengkapnya di artikel sejarah Tol Cipularang–Purbaleunyi rute Jakarta–Bandung.
Koneksi ini juga mengubah lanskap ekonomi wilayah. Kawasan di sekitar gerbang Pasteur, Kopo, dan Buah Batu tumbuh menjadi pusat perdagangan, hotel, dan permukiman baru. Padaleunyi tidak lagi sekadar jalan lingkar—ia menjadi koridor pertumbuhan.
Dekade 2010-an hingga Kini: Integrasi dan Modernisasi
Memasuki dekade 2010-an, fokus bergeser dari pembangunan fisik ke integrasi dan modernisasi layanan. Dua hal menonjol. Pertama, jaringan tol di sekitar Bandung semakin terhubung. Ruas Soreang–Pasirkoja menyambung ke Padaleunyi di sisi selatan, sementara Jalan Tol Cileunyi–Sumedang–Dawuan (Cisumdawu) menghubungkan gerbang Cileunyi ke arah Sumedang dan Kertajati. Koneksi ini memperkuat posisi Padaleunyi sebagai simpul jaringan, bukan sekadar lintasan.
Kedua, sistem pembayaran tol nasional berubah besar-besaran. Padaleunyi, seperti ruas lain di Indonesia, beralih dari transaksi tunai ke kartu uang elektronik. Perubahan paling signifikan terjadi ketika seluruh gerbang tol di Indonesia diwajibkan bertransaksi non-tunai pada 31 Oktober 2017. Antrean di gerbang tol pun berangsur berkurang, meski tantangan baru muncul saat volume kendaraan melonjak pada musim mudik.
Saat ini, Tol Padaleunyi juga menjadi bagian dari persiapan era transaksi nirsentuh. Pemerintah tengah mengembangkan sistem Multi Lane Free Flow (MLFF)—pembayaran tol tanpa berhenti dan tanpa palang. Sistem ini menuntut integrasi teknologi antaroperator dan kesiapan pengguna, sehingga penerapannya dilakukan secara bertahap. Untuk membandingkan pilihan rute di koridor Bandung–Jakarta, simak artikel perbandingan 3 rute tol Jakarta–Bandung.
Tabel Milestone: Tonggak Sejarah per Dekade
| Periode | Tonggak Sejarah | Keterangan |
|---|---|---|
| 1970-an–1980-an | Kajian kebutuhan jalan lingkar selatan Bandung | Lalu lintas antarkota menumpuk di jalur arteri dalam kota |
| 1987–1991 | Pembangunan ruas Padalarang–Cileunyi | Dikerjakan bertahap per segmen dari barat ke timur |
| 1991 | Peresmian dan mulai beroperasi | Resmi sejak 11 Maret 1991, dikelola Jasa Marga |
| 2003 | Pembukaan tahap awal Cipularang | Simpang Susun Padalarang mulai tersambung |
| 2005 | Rampungnya Cipularang | Padaleunyi menjadi lanjutan tol Jakarta–Bandung |
| 2017 | Wajib transaksi non-tunai | Seluruh gerbang tol termasuk Padaleunyi beralih ke e-toll |
| 2020-an | Integrasi Cisumdawu dan persiapan MLFF | Simpul jaringan tol Jawa Barat dan menuju era nirsentuh |
Ruas dan Gerbang Ikonik Tol Padaleunyi
Tol Padaleunyi dilintasi sejumlah gerbang dan simpang susun yang punya peran khas. Beberapa di antaranya menjadi nama yang akrab di telinga pengendara karena sering disebut dalam laporan lalu lintas harian. Berikut daftar ikoniknya.
| Gerbang/Simpang Susun | Perkiraan KM | Wilayah | Destinasi Utama |
|---|---|---|---|
| Simpang Susun Padalarang | 121 | Kabupaten Bandung Barat | Sambungan Tol Cipularang, arah Jakarta |
| Simpang Susun Leuwigajah | 125 | Cimahi | Kawasan industri Cimahi, Leuwigajah |
| Simpang Susun Baros | 127 | Kota Cimahi | Brigif, Dustira, Stasiun Cimahi |
| Ramp Pasteur | 127 | Kota Bandung | Pusat Kota Bandung, Lembang |
| Simpang Susun Pasirkoja | 132 | Kota Bandung | Tol Soreang–Pasirkoja, Soreang |
| Simpang Susun Kopo | 135 | Kota Bandung | Jalan Raya Kopo, kawasan perdagangan |
| Simpang Susun Mohammad Toha | 139 | Kota Bandung | Jalan Moh. Toha, Banjaran |
| Simpang Susun Buah Batu | 142 | Kabupaten Bandung | Terusan Buah Batu, Dayeuhkolot |
| Simpang Susun Cileunyi | 156 | Kabupaten Bandung | Tol Cisumdawu, arah Sumedang–Garut |
Simpang Susun Padalarang adalah pintu masuk utama dari arah Jakarta. Kendaraan yang datang dari Cipularang masuk ke koridor Padaleunyi di sini, sebelum menyusuri sisi selatan Bandung. Tidak jauh dari titik ini, Simpang Susun Leuwigajah dan Baros melayani kawasan Cimahi dan sekitarnya, termasuk kawasan industri yang padat angkutan barang.
Memasuki Kota Bandung, Ramp Pasteur menjadi salah satu gerbang tersibuk. Ia mengarah langsung ke pusat kota dan menjadi akses favorit menuju kawasan wisata Lembang. Selanjutnya, Pasirkoja, Kopo, dan Mohammad Toha melayani kawasan barat dan selatan Kota Bandung yang padat permukiman serta aktivitas ekonomi.
Di sisi timur, Buah Batu menghubungkan Padaleunyi dengan kawasan Dayeuhkolot dan Bojongsoang, sementara Simpang Susun Cileunyi menjadi gerbang penutup. Cileunyi adalah titik strategis: dari sini kendaraan dapat melanjutkan perjalanan ke Sumedang, Garut, hingga Tasikmalaya melalui Cisumdawu dan jaringan jalan nasional.
Sepanjang ruas ini terdapat pula tiga tempat istirahat, yaitu di KM 125B, KM 147A, dan KM 149B. Keberadaannya penting untuk memecah perjalanan panjang, terutama saat arus mudik dan arus balik. Rincian tarif antar-gerbang dapat Anda cek langsung melalui layanan cektol.id.
Evolusi Sistem Pembayaran di Padaleunyi
Cara orang membayar tol di Padaleunyi mencerminkan perjalanan sistem transaksi tol nasional. Dari antrean panjang dengan uang kertas, kini transaksi hanya butuh sepersekian detik, dan ke depan kendaraan mungkin tak perlu berhenti sama sekali.
| Era | Sistem | Karakteristik |
|---|---|---|
| Awal beroperasi (1990-an–2000-an) | Tunai | Pengendara menyerahkan uang di gerbang, rawan antrean dan kembalian |
| 2009 hingga kini | e-Toll (kartu uang elektronik) | Uji coba sejak 2009, diwajibkan non-tunai pada 31 Oktober 2017 |
| Masa depan | MLFF (nirsentuh nirhenti) | Pembayaran tanpa berhenti dan tanpa palang; tahap uji coba berlanjut |
Perjalanan ini tidak serta-merta mulus. Sistem e-toll yang memanfaatkan teknologi RFID menuntut pengendara menjaga saldo dan menempelkan kartu dengan benar. Namun secara umum, transaksi menjadi jauh lebih cepat dibanding era tunai. Untuk memahami cara mengisi saldo hari ini, Anda dapat membaca panduan internal kami, dan menghitung biaya perjalanan lewat kalkulator tarif tol.
Fakta Menarik tentang Tol Padaleunyi
- Nama “Padaleunyi” adalah akronim dari Padalarang–Cileunyi, dua ujung ruasnya.
- Panjangnya sekitar 33 kilometer dan merupakan jalan lingkar selatan Bandung.
- Resmi beroperasi sejak 11 Maret 1991, jauh sebelum Tol Cipularang ada.
- Dikelola PT Jasa Marga (Persero) Tbk sejak awal hingga sekarang.
- Menjadi bagian Jalan Tol Purbaleunyi (Purwakarta–Bandung–Cileunyi) sepanjang sekitar 90 kilometer.
- Terhubung dengan Cisumdawu di Cileunyi, membuka akses ke Sumedang dan Kertajati.
- Memiliki tiga rest area, yaitu di KM 125B, KM 147A, dan KM 149B.
- Menyambung Tol Soreang–Pasirkoja di sisi selatan Bandung.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kapan Jalan Tol Padaleunyi dibangun dan diresmikan?
Pembangunannya berlangsung pada kisaran tahun 1987 hingga 1991, dan ruas ini resmi beroperasi sejak 11 Maret 1991. Pada masa itu, Tol Cipularang belum dibangun.
Berapa panjang Jalan Tol Padalarang–Cileunyi?
Panjangnya sekitar 33 kilometer, membentang dari Padalarang di Kabupaten Bandung Barat hingga Cileunyi di Kabupaten Bandung.
Siapa yang mengelola Tol Padaleunyi?
Ruas ini dikelola oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk, sama seperti ruas Cipularang yang tersambung dengannya.
Apa hubungan Padaleunyi dengan Tol Purbaleunyi?
Padaleunyi adalah bagian dari Jalan Tol Purbaleunyi (Purwakarta–Bandung–Cileunyi). Padaleunyi menjadi segmen selatan, sementara Cipularang menjadi segmen yang menghubungkan Jakarta ke Padalarang.
Apakah Padaleunyi termasuk jalan lingkar selatan Bandung?
Ya. Padaleunyi dikenal sebagai jalan lingkar selatan Bandung karena rutenya mengelilingi sisi selatan cekungan Bandung, menghubungkan koridor barat dan timur.
Berapa gerbang tol di Tol Padaleunyi?
Terdapat sekitar sembilan gerbang tol, antara lain Padalarang, Baros, Pasteur, Pasirkoja, Kopo, Moh. Toha, Buah Batu, dan Cileunyi, ditambah Simpang Susun Padalarang.
Di mana saja rest area di Tol Padaleunyi?
Ada tiga tempat istirahat, yaitu di KM 125B, KM 147A, dan KM 149B.
Apakah tarif Tol Padaleunyi sudah menggunakan sistem non-tunai?
Ya. Seluruh gerbang tol di Indonesia, termasuk Padaleunyi, diwajibkan bertransaksi non-tunai dengan kartu uang elektronik sejak 31 Oktober 2017.
Kesimpulan
Sejarah Tol Padaleunyi adalah kisah tentang sebuah kota yang tumbuh dan jalan yang menyesuaikan diri. Lahir pada akhir dekade 1980-an sebagai jalan lingkar selatan Bandung dan resmi beroperasi pada 1991, ruas ini awalnya berdiri sendiri. Ketika Tol Cipularang rampung pada 2005, perannya berubah menjadi lanjutan penting koridor Jakarta–Bandung. Kini, dengan integrasi Cisumdawu dan modernisasi pembayaran menuju era nirsentuh, Padaleunyi tetap menjadi salah satu tulang punggung mobilitas Jawa Barat.
Bagi Anda yang rutin melintasi ruas ini, perencanaan biaya menjadi hal yang tak boleh diabaikan. Gunakan kalkulator tarif tol cektol.id untuk memperkirakan pengeluaran perjalanan, dan lengkapi wawasan Anda dengan artikel tarif Tol Padaleunyi untuk rute Jakarta–Bandung serta perbandingan 3 rute tol Jakarta–Bandung. Dengan memahami sejarah dan tarifnya, perjalanan Anda di koridor Bandung Raya akan lebih terencana.



