Uji Coba Kedua MLFF 2026 Bakal Digelar Skala Lebih Besar
Perkembangan sistem pembayaran tol nirsentuh kembali menjadi sorotan. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan bahwa pemerintah mempercepat uji coba kedua Multi Lane Free Flow (MLFF) setelah pengujian tahap pertama dinilai belum konklusif. Uji coba pertama dinilai tidak gagal, tetapi juga belum bisa disebut sukses, sehingga pemerintah memilih mengulang pengujian dengan cakupan yang jauh lebih luas melalui skema yang disebut setengah komersial.
Pernyataan tersebut disampaikan Dody di Semarang, Jawa Tengah, dan diberitakan ANTARA News pada Minggu, 27 September 2026. Media lain seperti Liputan6 (27 September 2026) dan Kompas.com (27 September 2026) turut mengutip pernyataan senada. Dalam pemberitaan itu, Dody menuturkan bahwa keberhasilan uji coba kedua akan menjadi dasar untuk melangkah ke tahap berikutnya.
“MLFF itu lagi dipercepat untuk uji coba kedua. Uji coba pertama kan enggak konklusif. Gagal enggak, sukses juga enggak,” kata Dody, sebagaimana dikutip ANTARA News.
Kabar ini penting karena menandai babak baru perjalanan MLFF di Indonesia. Sistem yang menjanjikan transaksi tol tanpa berhenti, tanpa sentuhan, dan tanpa penghalang ini sudah lama diuji, namun belum juga mendapat lampu hijau untuk beroperasi penuh. Bagi pengguna jalan tol, perkembangan ini akan menentukan seberapa cepat kebiasaan menempelkan kartu e-toll di gerbang berubah. Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Sebelum berangkat, pastikan saldo e-toll Anda cukup. Gunakan kalkulator tarif tol untuk menghitung estimasi biaya perjalanan lintas ruas agar perjalanan lebih tenang.
Apa Itu MLFF?
MLFF adalah singkatan dari Multi Lane Free Flow, yaitu sistem transaksi tol yang memungkinkan kendaraan membayar tarif tanpa berhenti, tanpa sentuhan, dan tanpa penghalang (barrier). Jika sistem e-toll saat ini masih mengharuskan kendaraan memperlambat laju atau berhenti sejenak di gerbang tol untuk menempelkan kartu, MLFF menghapus kebutuhan itu sepenuhnya.
Cara kerjanya bertumpu pada dua komponen utama. Pertama, perangkat On Board Unit (OBU) yang terpasang di dalam kendaraan. Kedua, sistem pemantauan yang memanfaatkan Global Navigation Satellite System (GNSS) atau teknologi satelit navigasi untuk melacak posisi dan pergerakan kendaraan. Kendaraan yang melintas di lajur tol dengan kecepatan normal akan terekam secara otomatis, lalu saldo pengguna terpotong sesuai jarak tempuh yang dilalui.
Pendekatan berbasis GNSS inilah yang membedakan MLFF dari sistem gerbang konvensional. Operator tidak lagi bergantung pada gerbang fisik sebagai titik transaksi, melainkan pada kombinasi pemosisian satelit dan perangkat di kendaraan. Konsekuensinya, kapasitas lajur bisa meningkat karena kendaraan tidak perlu berhenti sama sekali.
Perlu ditegaskan satu hal penting: MLFF tidak mengubah skema tarif tol. Besaran tarif tetap dihitung berdasarkan jarak tempuh dan golongan kendaraan sesuai ketentuan yang berlaku. Yang berubah hanyalah cara pembayaran dan titik transaksinya, bukan nominal yang harus dibayar pengguna.
Mengapa Uji Coba Pertama Dinilai Belum Konklusif?
Pemerintah tidak menutup-nutupi hasil uji coba tahap pertama. Dalam keterangannya, Menteri PU menyebut pengujian awal berjalan di tengah ketidakpastian: tidak bisa dinyatakan gagal total, tetapi juga belum cukup meyakinkan untuk dijadikan dasar komersialisasi. Menurut Kompas.com, uji coba tahap pertama dinilai belum menghasilkan kinerja yang konsisten, solid, dan memuaskan.
Sejumlah faktor membuat hasil uji coba pertama sulit disimpulkan. Pertama, skala pengujian terlalu kecil. Pengujian awal hanya bersifat terbatas dan tidak melibatkan volume kendaraan yang cukup besar untuk menggambarkan kondisi lalu lintas sesungguhnya. Dengan sampel yang terbatas, pemerintah sulit menilai apakah teknologi ini benar-benar andal ketika dihadapkan pada jutaan transaksi harian.
Kedua, kompleksitas koordinasi antarlembaga. Penerapan MLFF menyentuh banyak pihak, mulai dari operator jalan tol sebagai Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), kepolisian, pengelola Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), hingga institusi pengawasan keuangan. Menyatukan sistem dan kepentingan banyak instansi ini tidak sederhana dan memakan waktu.
Ketiga, kesiapan teknis serta integrasi sistem. Keandalan pembacaan posisi, kecocokan perangkat OBU, integrasi data dengan sistem operator, hingga kesiapan BUJT menjadi pekerjaan rumah yang harus tuntas sebelum sistem bisa dipercaya pada skala luas. Menurut keterangan pemerintah, persoalan utama MLFF saat ini murni terletak pada keandalan dan kelayakan teknis sistem ketika diterapkan dalam skala masif.
Keempat, aspek kepastian hukum dan investasi. Pemerintah menegaskan proses ini berjalan sesuai kontrak dengan pengembang sistem, PT Roatex Indonesia Toll System (RITS). Menteri PU menyatakan keputusan pemerintah berpatokan pada kelayakan teknologi, bukan pada besaran investasi yang diklaim pengembang, dan menekankan pentingnya audit tuntas sebelum melangkah lebih jauh.
Rencana Pengujian Tahap Kedua: Skala Lebih Besar, Skema Setengah Komersial
Berbeda dari pengujian awal yang berskala kecil, uji coba tahap kedua dirancang dengan cakupan yang jauh lebih luas. Pemerintah menyebut pendekatan ini sebagai setengah komersial, yaitu pengujian yang dijalankan dalam kondisi lebih mendekati pengoperasian sebenarnya. Menurut ANTARA News, pada tahap ini sistem akan diuji dengan pemasangan perangkat pada sejumlah titik.
“Setengah komersialnya baru kita tes benar-benar. Nanti kita akan meng-install beberapa titik,” ungkap Menteri PU.
Beberapa ciri utama pengujian tahap kedua:
- Volume kendaraan lebih besar — uji coba kedua melibatkan jumlah kendaraan yang jauh lebih banyak agar hasilnya menggambarkan kondisi lalu lintas riil, bukan sekadar simulasi terbatas.
- Melibatkan berbagai pemangku kepentingan — pemerintah menggandeng kepolisian, pengelola Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Kejaksaan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
- Lokasi pengujian — pengujian kembali direncanakan di Jalan Tol Bali Mandara, memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia dari pengujian sebelumnya.
- Target hasil konklusif — pengujian diarahkan untuk menjawab secara tegas apakah teknologi MLFF benar-benar siap diandalkan, sehingga tidak lagi menyisakan kesimpulan yang menggantung.
Pemerintah berharap skema setengah komersial ini memberi gambaran lebih nyata mengenai kesiapan sistem sebelum masuk ke tahap komersialisasi penuh. Dody menyebut tantangan terbesar justru bukan sekadar teknologi, melainkan mengoordinasikan banyak pihak yang terlibat.
“Sekarang tantangannya melibatkan banyak orang dan instansi, seperti PKB, Kejaksaan, dan pihak terkait lainnya. Kita mau tes beneran dalam skala setengah komersial. Nanti dari situ baru kelihatan apakah teknologi ini benar-benar siap atau tidak,” tegasnya.
Sebagai gambaran besarnya pasar tol Indonesia, pada Juni 2026 Kementerian PU menyebut total transaksi harian di gerbang tol mencapai sekitar 4 juta transaksi. Angka ini menjelaskan mengapa sistem pengganti e-toll harus benar-benar matang sebelum diterapkan secara nasional. Proyek sistem transaksi nontunai berbasis MLFF/GNSS sendiri tercatat sebagai proyek berskala nasional dengan nilai investasi yang besar dalam daftar proyek infrastruktur pemerintah.
Perbandingan e-toll Saat Ini dengan MLFF
Untuk memudahkan pemahaman, berikut tabel ringkasan perbandingan antara sistem e-toll yang berlaku saat ini, sistem gerbang terbuka, dan MLFF. Tabel ini bersifat gambaran umum berdasarkan konsep yang dipromosikan pemerintah dan pemberitaan terkini.
| Aspek | e-toll di Gerbang Tol (kini) | MLFF (nirsentuh) |
|---|---|---|
| Kendaraan berhenti | Ya, di gerbang tol | Tidak sama sekali |
| Kontak fisik | Menempelkan kartu e-toll | Tidak, terdeteksi otomatis |
| Teknologi penentuan lokasi | Gerbang dan perangkat tap | GNSS atau satelit navigasi serta OBU |
| Kecepatan melintas | Rendah, hampir berhenti | Kecepatan normal |
| Kapasitas per lajur | Terbatas | Paling tinggi |
| Titik macet di gerbang | Rawan, terutama jam padat | Berpotensi jauh berkurang |
| Biaya perangkat pengguna | Kartu e-toll | OBU (skema pembiayaan masih dibahas) |
| Skema tarif | Berdasarkan jarak dan golongan | Berdasarkan jarak dan golongan (sama) |
Yang perlu digarisbawahi, baris terakhir menunjukkan bahwa skema tarif tidak berubah. Hal yang berubah hanya mekanisme pembayaran dan infrastruktur penunjangnya. Sementara itu, kolom e-toll mencerminkan kondisi saat ini, sedangkan kolom MLFF menggambarkan kondisi yang ditargetkan bila sistem dinyatakan layak dan beroperasi.
Dampak bagi Pengguna Jalan Tol
Bagi pengguna jalan tol, hasil uji coba kedua akan berpengaruh besar terhadap pengalaman berkendara sehari-hari. Berikut beberapa dampak yang perlu dicermati.
Penghematan waktu. Manfaat paling nyata dari MLFF adalah berkurangnya antrean di gerbang tol. Ketika kendaraan tidak perlu lagi memperlambat laju atau berhenti untuk menempelkan kartu, waktu tempuh di ruas padat bisa lebih singkat. Pada musim liburan atau arus mudik, titik macet yang biasanya menumpuk di sekitar gerbang tol berpotensi jauh berkurang.
Kelancaran arus dan efisiensi bahan bakar. Karena kendaraan tidak berhenti dan kembali melaju berulang kali, konsumsi bahan bakar serta emisi gas buang dapat ditekan. Arus lalu lintas yang lebih mulus juga menurunkan risiko kecelakaan akibat kendaraan berhenti mendadak di antrean gerbang.
Isu privasi dan keamanan data. Sistem MLFF berbasis GNSS melacak posisi dan pergerakan kendaraan, sehingga menimbulkan pertanyaan soal perlindungan data pribadi. BPJT sebelumnya menegaskan bahwa penerapan MLFF dilakukan bertahap dengan mempertimbangkan aspek keamanan data, kesiapan pengguna, regulasi, integrasi sistem, dan dukungan operasional. Artinya, kerangka perlindungan data menjadi salah satu syarat yang harus tuntas sebelum sistem digelar luas.
Kesiapan tarif dan saldo. Pengguna tidak perlu khawatir tarif berubah karena kehadiran MLFF. Skema tarif tetap sama, yaitu berdasarkan jarak tempuh dan golongan kendaraan. Namun, karena transaksi berjalan otomatis tanpa gerbang, pengelolaan saldo menjadi semakin penting. Pengguna perlu memastikan saldo selalu cukup agar tidak terjadi masalah saat melintas.
Masa transisi perangkat. Kehadiran OBU sebagai perangkat baru memunculkan pertanyaan soal biaya pengadaan dan siapa yang menanggungnya. Detail pembiayaan ini masih menunggu regulasi lebih lanjut, sehingga pengguna umum belum diwajibkan memasang OBU selama tahap pengujian. Sosialisasi yang baik akan menentukan mulus tidaknya masa transisi dari kartu e-toll menuju perangkat baru.
FAQ Seputar Uji Coba MLFF
1. Kapan MLFF akan berlaku penuh? Belum ada tanggal pasti. Pemerintah mempercepat uji coba kedua melalui skema setengah komersial, dan keputusan adopsi bergantung pada hasil pengujian tersebut. Jika uji coba kedua sukses, proses baru dilanjutkan ke tahap berikutnya menuju komersialisasi penuh.
2. Apakah kartu e-toll akan jadi usang? Pada tahap pengujian, kartu e-toll masih digunakan seperti biasa. Dalam jangka panjang, perangkat OBU berpotensi menggantikan peran kartu, tetapi sumber dana pembayaran tetap berasal dari saldo pengguna. Selama MLFF belum beroperasi penuh, e-toll tetap menjadi alat transaksi utama di gerbang tol.
3. Apa yang harus disiapkan pengguna saat ini? Saat ini tidak ada kewajiban baru bagi pengguna umum. Yang terpenting adalah menjaga saldo e-toll tetap cukup, memahami skema tarif yang berlaku, dan mengikuti perkembangan informasi resmi dari pemerintah. Sosialisasi menyeluruh akan dilakukan sebelum sistem baru diberlakukan.
4. Apakah tarif tol akan berubah karena MLFF? Tidak. MLFF hanya mengubah cara pembayaran, bukan besaran tarif. Tarif tetap dihitung berdasarkan jarak tempuh dan golongan kendaraan, dan tetap dievaluasi secara berkala oleh BPJT. Perubahan tarif yang mungkin terjadi mengikuti mekanisme penyesuaian yang sudah ada, bukan karena sistem MLFF.
5. Mengapa lokasi uji coba kembali di Bali? Jalan Tol Bali Mandara dipilih karena infrastruktur pengujian sebelumnya sudah tersedia dan volume lalu lintasnya relatif terkendali dibandingkan ruas Trans Jawa. Kondisi ini dinilai lebih aman untuk menguji sistem baru dalam skala lebih besar sebelum diterapkan di ruas yang lebih padat.
6. Apa yang dimaksud skema setengah komersial? Setengah komersial adalah tahap pengujian yang dijalankan dalam kondisi mendekati pengoperasian sebenarnya, dengan pemasangan perangkat di sejumlah titik dan volume kendaraan yang lebih besar. Tujuannya memberi gambaran lebih nyata tentang kesiapan sistem sebelum masuk ke tahap komersialisasi penuh.
Kesimpulan
Percepatan uji coba kedua MLFF menandai babak baru perjalanan sistem tol nirsentuh di Indonesia. Setelah uji coba pertama dinilai belum konklusif, pemerintah memilih pendekatan yang lebih serius: menguji sistem dalam skala lebih besar melalui skema setengah komersial di Jalan Tol Bali Mandara, dengan melibatkan lebih banyak kendaraan dan instansi. Tujuannya jelas, yakni mendapatkan kesimpulan yang tegas soal kelayakan teknologi sebelum melangkah ke komersialisasi penuh.
Bagi pengguna jalan tol, yang perlu dicatat adalah skema tarif tol tidak berubah. MLFF mengubah cara pembayaran, bukan besaran yang harus dibayar. Tantangan terbesarnya justru ada pada kesiapan teknis, koordinasi antarlembaga, dan perlindungan data, bukan pada penyesuaian tarif. Karena itu, pengguna tidak perlu terburu-buru; yang penting adalah memantau perkembangan resmi dan tetap menjaga saldo e-toll selama masa transisi.
Pantau terus kabar terbaru seputar jalan tol hanya di Cek Tarif Tol. Sebelum berangkat, biasakan menghitung estimasi biaya perjalanan Anda menggunakan kalkulator tarif tol agar saldo cukup hingga gerbang tujuan dan perjalanan lebih tenang.
Informasi Terkait
- MLFF Uji Coba Ulang 2026: Bali dan Satu Titik Lainnya Akan Diuji Lagi
- MLFF Indonesia 2026: Jalan Tol Tanpa Gerbang
- Sistem MLFF: Bayar Tol Tanpa Berhenti, Panduan Lengkap
Sumber
- ANTARA News, “Menteri PU percepat uji coba kedua MLFF sebelum tahap semikomersial”, 27 September 2026, antaranews.com
- Kompas.com, “Uji Coba MLFF Kedua Bakal Digelar, Pemerintah Siapkan Skema Setengah Komersial”, 27 September 2026, kompas.com
- Liputan6.com, “Uji Coba Kedua Bayar Tol Tanpa Berhenti Dipercepat”, 27 September 2026, liputan6.com



